Angka Pernikahan Tinggi, BTN Klaim Bisnis Perumahan Kian Prospektif

09 September 2021 14:40 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Laila Ramdhini

Suasana pembangunan perumahan bersubsidi kawasan Kecamatan Mauk Kabupaten Tangerang, Banten, Jum’at, 23 Oktober 2020. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Tingkat pernikahan yang tinggi setiap tahunnya menciptakan pangsa pasar baru bagi bisnis perumahan di Indonesia. Hal ini otomatis menjadi berkah bagi bank pelat merah yang fokus pada penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).

Wakil Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan angka pernikahan baru di Indonesia mencapai 400.000-800.000 pasangan per tahunnya. Dirinya pun mengatakan pasangan baru dengan kebutuhan tempat tinggal ini akan menimbulkan permintaan hunian, bahkan di tengah pandemi COVID-19.

“Pangsa pasar ini terus terbentuk, sehingga bisnis perumahan ini masih prospekti,  dan ini juga yang menjadi fokus kami untuk meningkatkan kinerja,” ucap Nixon dalam paparan publik virtual, Kamis, 9 September 2021.

Permintaan yang tinggi terhadap perumahan juga dapat ditilik dari tingkat kekurangan hunian atau backlog. Menurut Kajian Housing Finance Center BTN, tingkat backlog kepemilikan rumah pada 2021 masih mencapai 7,7 juta atau turun dibandingkan 2015 yang masih 11,4 juta.

Nixon mengungkapkan BTN menguasai hampir separuh market share penyedia KRP, tepatnya 41,46%. Bahkan, BTN menggenggam 86% market share KPR bersubsidi di Indonesia.

Selain menanti calon nasabah dari pengantin baru, BTN juga melakukan manuver dengan terus penetrasi ke sejumlah Kementerian/Lembaga (K/L). Nixon menyatakan BTN telah menjalin kerja sama dengan TNI Angkatan Darat (AD) sebagai penyedia pendanaan perumahan.

“TNI AD itu ke kita karena mereka merasa kita yang paling mengerti soal KPR. Ini juga untuk mengembangkan bisnis dari sisi lending maupun funding,” jelas Nixon.

Meski ada pandemi COVID-19, BTN membukukan kinerja yang kuat dari segi intermediasi. Hingga semester I-2021, BTN mencatat pertumbuhan kredit hingga 5,59% year on year(yoy), didorong oleh segmen KPR subsidi yang melesat 11,17%.

Penyaluran kredit dan pembiayaan BTN merangkak dari Rp260,11 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp265,90 triliun pada semester I-2021. Meski pertumbuhan KPR subsidi melesat, Nixon mengklaim justru ada perbaikan dari aspek rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

NPL gross BTN berkurang dari 4,25% pada kuartal I-2021 menjadi 4,10% pada semester I-2021. “KPR subsidi ini meski menyasar kelas bawah, tapi NPL nya tetap baik,” ujar Nixon.

Adapun penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami peningkatan 31,84% yoy menjadi Rp298,37 triliun dari sebelumnya Rp279,13 triliun. Kendati DPK tumbuh signifikan, Bank BTN berhasil mencatatkan penurunan beban bunga dengan menekan biaya dana (cost of fund/CoF) hingga 171 basis poin (bps).

Peningkatan DPK juga menyebabkan Loan to Deposit Ratio (LDR) menurun sebesar 2.216 bps hingga ke level 89,12% di kuartal II-2021.  Sehingga, total aset BTN pada semester I-2021 ini menembus Rp380,51 triliun atau tumbuh 20,95% yoy.

Bank pelat merah ini membukukan laba bersih sebesar Rp920 miliar pada kuartal II-2021, tumbuh 19,87% yoy dari Rp768 miliar pada periode tahun lalu.

Pertumbuhan laba didorong oleh pendapatan bunga yang naik 1,39% yoy. Selain itu, beban bunga juga berhasil ditekan turun sebesar 13,63% yoy sehingga pendapatan bunga bersih naik ke level 28,18% yoy.

Berita Terkait