Ancaman Tapering Off Kian Terang, Dana Asing di Obligasi Sudah Minggat dari RI Rp90 Triliun

16 Juni 2021 09:01 WIB

Penulis: Gloria Natalia Dolorosa

Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar di kantor cabang Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 22 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Kekhawatiran pemerintah Indonesia terhadap ancaman tapering off atau pengurangan stimulus the Fed kian besar setelah Amerika Serikat mengeluarkan data inflasi Mei 2021 sebesar 5%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dinamika perekonomian di Amerika Serikat (AS) memiliki multiplier effect terhadap berbagai sektor di Indonesia.

Selain menimbulkan volatilitas tinggi di pasar modal, kebijakan The Fed juga bisa menekan nilai mata uang rupiah hingga menurunkan daya tarik lelang Surat Berharga Negara (SBN).

Capital outflow ini sedang diwaspadai oleh emerging market seperti Indonesia. Spekulasi kebijakan The Fed bisa memicu kekhawatiran yang berakibat pada capital sampai SBN kita,” ujar Sri Mulyani.

Malah, disinyalir bahwa kondisi keluarnya modal (capital outflow) yang akan datang akan lebih parah ketimbang krisis keuangan pada 2008.

Sri Mulyani membandingkan bila pada periode global krisis finansial aliran modal asing kembali ke negara berkembang pada bulan keenam, sedangkan memasuki bulan ke-15 di masa pandemi COVID-19 ini aliran dana keluar belum juga kembali.

Bank Indonesia juga memperkirakan tapering off (pengetatan kebijakan moneter) yang akan dilakukan the Fed bisa saja terjadi pada 2022, bukan tahun ini.

Berikut rangkuman aliran modal dari investor asing di pasar obligasi dan pasar saham di Indonesia selama masa pandemi ini.

Pasar Obligasi

Data DJPPR Kementerian Keuangan menunjukkan terdapat capital outflow investor asing senilai Rp90,7 triliun selama 15 bulan yang berakhir pada Mei 2021. Nilai ini berasal dari selisih antara kepemilikan surat berharga negara (SBN) rupiah investor asing sejak akhir Februari 2020 yang sebesar Rp1.048,16 triliun terhadap posisi per 31 Mei 2021 senilai Rp957,46 triliun.


Dari data di atas, tren capital outflow mulai terjadi sejak Maret 2020. Selama 1 bulan saja pada Maret 2020, capital outflow mencapai Rp121,25 triliun. Angka ini kontras dengan masuknya dana (capital inflow) pada Maret 2019 yang sebesar Rp24,39 triliun.

Capital outflow yang terjadi sejak Maret tahun lalu itu bisa dikaitkan dengan keputusan pemerintah Indonesia menetapkan wabah COVID-19 sebagai bencana nasional.

Sejak Maret 2020 itu pula, tren capital inflow yang terjaga pada 2019 berbalik arah menjadi capital outflow. Rinciannya, sepanjang 2019 investor asing menambah kepemilikannya di SBN rupiah hingga Rp168,38 triliun. Sementara, sepanjang 2020 dana investor asing sebesar Rp89,38 triliun keluar dari SBN rupiah.

Pasar Saham

Bila di pasar SBN rupiah dana investor asing merembes keluar, tidak begitu dengan di pasar saham. Nyaris 1 semester 2021, tepatnya hingga 15 Juni, investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) di Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp17,01 triliun.

Kondisi beli bersih ini berkebalikan dari semester I-2020 yang membukukan jual bersih. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jual bersih (net sell) investor asing paruh pertama tahun lalu senilai Rp3,45 triliun.

Sepanjang tahun 2020 total jual bersih investor asing mencapai Rp47,88 triliun. Dalam 10 tahun terakhir, tahun 2020 – tahun ketika pandemi COVID-19 menghentak Indonesia – menjadi tahun kedua investor asing mencatatkan jual bersih terbesar setelah 2018.

Berita Terkait