Analisis Saham Teknologi: Tren Gemilang hingga Primadona Baru di Pasar Modal

09 Agustus 2021 07:07 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Sukirno

Warga mengakses website Bukalapak di Jakarta, Kamis, 24 Juni 2021. Tren gemilang saham teknologi hingga primadona baru di pasar modal. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (TrenAsia.com)

JAKARTA – Tren penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) perusahaan start up teknologi membuka harapan baru bagi pelaku pasar Tanah Air. Momentum ini berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar modal Indonesia di tengah tekanan yang dihadapi pada masa pandemi.

Unicorn e-commerce PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, 6 Agustus 2021. Pada perdagangan perdananya itu, saham BUKA langsung melesat 24,71% menyentuh auto reject atas (ARA) hanya dalam waktu 2 menit setelah pembukaan.

Tingginya animo investor terhadap saham tersebut menjadikan Bukalapak sebagai emiten blue chips saat ini dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp109,25 triliun. Tentunya, hal ini mengerek nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia tembus Rp7.507,73 trilun pada akhir pekan lalu.

Potensi peningkatan kapitalisasi pasar ini diperkirakan bakal terus berlanjut. Otoritas Bursa juga tak segan menggelar karpet merah dengan menggodok berbagai aturan baru untuk mempermudah jalan bagi start up digital yang ingin menggalang dana di pasar saham domestik. 

"Patut saya share sedikit, kami sedang melakukan diskusi intens dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan stakeholder, untuk merumuskan regulasi-regulasi yang memungkinkan para start up bisa melakukan IPO,” ujar Direktur Utama PT BEI Inarno Djajadi dalam sebuah webinar awal Agustus 2021.

Menurutnya, terdapat 6 unicorn dan 27 perusahaan centaur (start up teknologi dengan kapitalisasi pasar kurang dari US$1 miliar) yang berpeluang melantai di BEI. Perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi menambah kapitalisasi pasar Bursa hingga Rp553,9 triliun.

Di sisi lain, kata Inarno, jumlah investor juga akan turut meningkat dengan adanya IPO unicorn tersebut. Sebab, jumlah pengguna aplikasi daring start up sangat tinggi. Sehingga, mendorong animo mereka untuk ikut menjadi investor saat IPO start up berlangsung.

Proyeksi Sektor Teknologi 

E-commerce unicorn Bukalapak resmi IPO di pasar modal / Dok. Bukalapak

Rencana masuknya sejumlah start up teknologi bervaluasi jumbo diyakini semakin mendongkrak pertumbuhan indeks sektor teknologi. Tapi jauh sebelum itu, IDX-IC Technology sendiri telah melesat tajam sebelum Bukalapak mencatatkan namanya di papan Bursa.

Berdasarkan data perdagangan BEI per 6 Agustus 2021 -tepat pada tanggal debut perdana perdagangan saham Bukalapak- indeks teknologi telah meroket 977,21% sepanjang tahun ini (year-to-date/ytd). Jauh meninggalkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya tumbuh 3,75% ytd.

Bahkan, jajaran indeks populer yang beranggotakan emiten dengan kapitalisasi pasar jumbo, tingkat likuiditas tinggi, dan fundamental terbaik, justru menjadi pemberat indeks komposit. Misalnya saja LQ45, IDX30, dan IDX80 yang masing-masing terkoreksi 9,71%, 10,59%, dan 10,26% ytd. 

Rasio pertumbuhan yang signifikan itu menunjukkan bahwa saham-saham sektor teknologi berhasil menopang Bursa domestik, di tengah pelemahan indeks lainnya. Kendati begitu, bobot sektor finansial masih menjadi penyumbang utama IHSG dengan nilai pertumbuhan sebesar 11,86% ytd.

Nyatanya, fenomena ini tidak hanya terjadi pada pasar modal Indonesia. Head of IDX Incubator BEI, Aditya Nugraha menyampaikan bahwa perubahan tren pasar telah lebih dulu terjadi pada beberapa Bursa asing. 

Pada tahun lalu, emiten dengan market cap tertinggi di AS ditempati oleh perusahaan teknologi, seperti Apple, Microsoft, dan Amazon. Berbanding terbalik dibandingkan dengan tahun 2010, di mana kapitalisasi pasar Bursa di Negeri Paman Sam masih diduduki oleh perusahaan konvensional. 

Bagi dia, ini menunjukkan pasar modal Indonesia cukup tertinggal dibandingkan dengan Bursa asing lainnya. Sehingga, pihaknya berupaya untuk mengikuti tren Bursa global dengan mendorong sebanyak-banyaknya pelaku start up untuk dapat melantai di BEI.

“Ini merupakan lagging indicator bagi market kita. Sehingga kami sangat pro-aktif untuk melakukan penetrasi pasar, berdiskusi dengan para pelaku start up agar mereka berani menatap pasar modal sebagai alternatif pendanaan,” ujarnya melalui sebuah webinar beberapa waktu lalu.

Potensi IPO Start Up Lokal

Kolaborasi Gojek dan Tokopedia dalam GoTo rencananya bakal IPO di bursa Indonesia dan Amerika Serikat / Dok. Gojek

Sementara itu, AVP Pengembangan Layanan dan Pengembangan Perusahaan BEI, Bima Ruditya Surya mengungkapkan terdapat tiga perusahaan raksasa teknologi lainnya yang berpotensi menyusul Bukalapak untuk melantai di Bursa. Di antaranya GoTo, J&T Express, serta Traveloka.

Jika perusahaan-perusahaan tersebut sukses melaksanakan IPO, kata Bima, maka keempatnya sangat berpeluang meningkatkan bobot indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) Indonesia bersama dengan emiten besar lainnya. 

“Dari situ kita bisa melihat pengaruhnya bagi market kita baik dari segi pembobotan MSCI Indonesia tersebut,” imbuhnya.

MSCI sendiri merupakan penyedia indeks saham dan obligasi terkemuka global. Saham-saham dalam indeks tersebut biasa dijadikan acuan oleh para manajer investasi dunia dalam mengelola dana nasabahnya.

Untuk memuluskan hal tersebut, lanjutnya, BEI telah merombak beberapa regulasi dan kebijakan Bursa agar start up lokal bisa melaksanakan IPO. Beberapa aturan tersebut adalah melakukan klasifikasi ulang atas sektor dan sub sektor, papan pencatatan, sistem multiple voting shares (MVS), dan notasi spesial.

Daya Tarik Sektor Teknologi

Berdasarkan data perdagangan BEI per 6 Agustus 2021 -tepat pada tanggal debut perdana perdagangan saham Bukalapak- indeks teknologi telah meroket 977,21% sepanjang tahun ini (year-to-date/ytd). Jauh meninggalkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya tumbuh 3,75% ytd.  Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Deputy Head of Equity Research BNI Sekuritas, Aurellia Setiabudi menyebut beberapa alasan investor sangat meminati saham sektor teknologi, terutama pada segmen e-commerce dan yang berkaitan dengannya. Antara lain karena tingginya pertumbuhan penjualan serta penetrasi e-commerce di Tanah Air.

Ia memaparkan, penjualan e-commerce di Indonesia selama pandemi 2020 tumbuh sekitar 60% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pada jangka waktu 5 tahun, mulai dari 2015-2020, penjualan e-commerce dalam negeri melesat 10 kali lipat dari hampir Rp30 triliun menjadi lebih dari Rp450 triliun.

“Ini tentunya berbanding terbalik dengan penjualan ritel konvensional yang anjlok di masa pandemi. Sehingga para pelaku pasar akan mencari sektor yang dapat memberikan pertumbuhan di masa yang akan datang,”

Dari segi penetrasi, e-commerce di Indonesia mendominasi pasar Asia Tenggara dengan porsi 20%, di atas Singapura, Thailand, dan Malaysia. Sedangkan, dalam lingkup Asia, Indonesia berada di bawah China dengan penetrasi mencapai 27%. 

Kinerja Saham Emiten Teknologi 

Pemilik Grup Indofood, Anthoni Salim. / Nikkei

Tak hanya segmen e-commerce, terdapat segmen lain dalam sektor teknologi yang cukup menarik perhatian pelaku pasar, seperti segmen data center. Sebagai contoh, emiten yang mewakili industri data center adalah PT DCI Indonesia Tbk (DCII).

Sejatinya, kedua emiten tersebut telah lebih dulu mendorong peningkatan yang signifikan pada indeks teknologi dalam beberapa waktu terakhir. Pergerakan saham DCII dan MLPT sempat menghebohkan pasar modal Indonesia.

Seperti yang telah diketahui, DCII yang merupakan perusahaan data center milik Otto Toto Sugiri, memimpin laju peningkatan indeks teknologi. Saat tercatat kali pertama di BEI pada 6 Januari 2021, saham DCII berada pada level Rp525.

Belum genap enam bulan setelah IPO, saham DCII meroket hingga 11.138% ke posisi Rp59.000 per 17 Juni 2021. Angka tersebut menggeser tingginya harga saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang seharga Rp36.025.

Alhasil, DCII menjadi saham paling mahal di BEI hingga saat ini. Kapitalisasi pasarnya pun tembus Rp140,64 triliun. Namun, masih lebih rendah dibandingkan dengan kapitalisasi pasar PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang bertengger di posisi teratas dengan nilai Rp772 triliun.

Tajamnya kenaikan harga saham DCII diduga akibat aksi borong saham DCII yang dilakukan Bos Grup Indofood, Anthoni Salim, pada 31 Maret 2021. Ia memborong 192,74 juta lembar saham DCII pada harga Rp5.277 per lembar dengan total nilai pembelian sekitar Rp1,01 triliun.

Selain DCII, terdapat beberapa saham teknologi yang juga mengalami lonjakan harga signifikan. Di antaranya PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX), PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS), serta PT Multipolar Technology Tbk (MLPT).

Selama periode tahun berjalan, saham DMMX melesat tajam sebesar 1.234,75% ke level harga Rp3.150 per lembar pada penutupan perdagangan Jumat, 6 Agustus 2021. Sedangkan, saham KIOS dan MLPT masing-masing tumbuh 592,57% dan 456,34% ytd.

Berita Terkait