Analisis Rahasia Bankir Bank Mandiri Kuasai Jabatan Strategis BUMN

JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir belum lama ini mengangkat Royke Tumilaar dan empat bankir dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk lainnya, sebagai direksi di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI.

Mereka adalah mantan Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Silvano Rumantir yang didaulat menjadi Direktur Corporate Banking BNI. Kemudian, mantan Senior Executive Vice President Wholesale Risk Bank Mandiri David Pirzada yang diangkat menjadi Direktur Manajemen Risiko BNI.

Selanjutnya, mantan Senior Vice President SME Banking Muhammad Iqbal yang diangkat menjadi Direktur Bisnis UMKM BNI. Terakhir, mantan Senior Vice President Strategy & Performance Management Bank Mandiri Novita Widya Anggraini yang diangkat sebagai Direktur Keuangan BNI.

Sebagai pemegang saham pengendali perwakilan pemerintah, Erick merombak jajaran direksi BNI, termasuk mencopot Direktur Utama Herry Sidharta yang baru menjabat seumur jagung.

Perombakan manajemen yang dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 September 2020 tersebut sontak menjadi sorotan publik. Dengan hadirnya para bankir itu, otomatis menambah barisan peta sebaran ‘alumni’ Mandiri di kementerian hingga korporasi pelat merah kian menggurita.

Erick menyebut, penyegaran dan kekompakan menjadi alasannya dalam menunjuk sederet bankir bank Mandiri menduduki posisi di BNI.

“Saya merasa, perlu ada penyegaran karena BNI ini bank besar. Kami harapkan dengan adanya penyegaran ini, kinerjanya jadi lebih bagus,” ungkapnya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selain itu, ia juga menginginkan adanya keselarasan antara direksi dan komisaris perusahaan pelat merah, termasuk BNI.

“Saya mengharapkan dengan manajemen yang baru, bisa lebih kompak sesama direksi, lebih kompak dengan komisaris,” kata Erick.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 September 2020 memutuskan Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Herry Sidharta dan diganti dengan Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Royke Tumilaar. / Dok. BNI

Talenta Perbankan

Peneliti Institure for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto pun menilai, penempatan para bankir ke dalam jabatan strategis pemerintahan menunjukkan bahwa talent dari perbankan, menjadi aspek penting untuk membangun perekonomian Indonesia.

Terlebih, kata Eko, fokus kinerja pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini adalah pembangunan infrastruktur. Hal ini terlihat dari peningkatan sisi pembiayaan, terutama utang pemerintah.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan II-2020 naik 5% year-on-year (yoy) menjadi US$408,6 miliar setara Rp6.020 triliun (asumsi kurs dolar Rp14.750).

Posisi utang tersebut terdiri dari ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral) US$199,3 miliar dan ULN sektor swasta, termasuk BUMN sebesar US$209,3 miliar. ULN tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I-2020 sebesar 0,6% yoy yang disebabkan oleh transaksi penarikan neto ULN, baik di sisi pemerintah maupun swasta.

“Jadi, hal paling penting untuk menerjemahkan insfrastruktur tersebut adalah aspek finansial,” ujarnya saat dihubungi TrenAsia.com, Senin, 7 September 2020.

Melalui aspek tersebut, lanjutnya, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang betul-betul memahami permasalahan finansial untuk memberikan arah dan solusi.

“Memang dibutuhkan orang-orang yang paham mengenai keuangan, salah satu talentnya adalah bankir,” ujarnya.

Direktur Utama Royke Tumilaar saat memperkenalkan UKM Center Bank Mandiri. / Dok. Bank Mandiri

Kompetensi Bankir

Seorang bankir dianggap paling mengatahui tentang praktik dan penerapan mengenai cara men-generate pembiayaan agar dapat melakukan berbagai kegiatan terkait. Selain itu, kata Eko, dari ratusan bisnis BUMN, hanya 10% di antaranya yang menghasilkan keuntungan. Menurutnya, masalah utamanya terletak pada faktor keuangan.

“Hampir semua bisnis pelat merah, problem utamanya adalah keuangan sehingga pemerintah pun menaruh banyak bankir di sana (BUMN),” tambahnya.

Kebetulan, lanjut Eko, Bank Mandiri menjadi salah satu bank yang dianggap paling unggul dalam melakukan pembinaan terhadap talenta-talentanya.

Jika diselisik lebih lanjut, kursi direksi di PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN juga ditempati oleh empat talent alumni Mandiri. Di sana, ada Pahala Nugraha Mansury sebagai Direktur Utama, Jasmin sebagai Direktur Distribution & Retail Funding, Setiyo Wibowo yang menjadi Direktur Enterprise Risk Management, Big Data & Analytics, serta Nixon L.P Napitupulu yang menjabat sebagai Direktur Keuangan, Perencanaan, dan Treasury.

Meskipun demikian, Eko menilai alangkah baiknya jika pemerintah, terutama Kementerian BUMN dapat mengakomodasi aspek inklusi alias kombinasi.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan bahwa Erick berambisi agar BNI mampu go global.

“Pak Erick serius mencari orang-orang yang bukan level biasa. Pak Royke sendiri adalah orang corporate banking, tujuannya agar BNI go global,” kata Arya pada awak media beberapa waktu lalu.

Dalam hal ini, Eko pun mendukung tujuan internasionalisasi bank pelat merah yang tergabung dalam Himpunan bank-bank milik negara (Himbara) di Indonesia. Menurutnya, sosok yang berpengalaman dan kompeten memang dibutuhkan. Akan tetapi, aspek inklusif untuk menggandeng talent-talent dari BNI juga menjadi hal yang penting.

“Padahal sebenarnya, yang dituju kan soal go global alias internasionalnya,” ungkapnya.

Menteri BUMN Erick Thohir dan Wamen BUMN Kartika Widjoatmodjo serta Budi Gunadi Sadikin / Dok. Kementerian BUMN

Menimbulkan Pertanyaan Publik

Bagaimana pun juga, ujar Eko, jika semua figur yang ditunjuk relatif mencolok dari jajaran Bank Mandiri, maka dapat menimbulkan pertanyaan publik. Apalagi, lanjutnya, kedua bank tersebut sama-sama bersaing dari sasaran segmen, yakni korporasi.

Di samping itu, jika diukur dari kinerjanya, dapat diakui bahwa saat ini kedua bank tersebut tidak ada yang selamat dari dampak pandemi COVID-19. Pada paruh pertama tahun 2020, Bank Mandiri mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp9,8 triliun. Laba tersebut turun 23,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp12,8 triliun.

Meskipun demikian, pendapatan bank pelat merah ini masih mengalami peningkatan tipis 0,5% dari Rp37,1 triliun per Juni 2019 menjadi Rp37,3 triliun per Juni 2020. Penyaluran kredit konsolidasi juga meningkat 4,38% yoy menjadi Rp871,7 triliun pada periode ini. Adapun dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi tumbuh 15,82% yoy menjadi Rp976,6 triliun. Pada periode ini, aset BMRI naik 9,1% yoy menjadi Rp1.359,4 triliun. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) mencapai 3,28% per Juni 2020.

Sementara itu, laba bersih BNI juga tak terhindar dari tekanan. Angkanya ambruk 41,6% secara tahunan menjadi Rp4,46 triliun pada semester I-2020. Padahal, pada enam bulan pertama tahun sebelumnya, laba bersih BNI mencapai Rp7,63 triliun.

Di sisi lain, realisasi penyaluran kredit BNI pada enam bulan pertama tahun ini tumbuh sebesar 5% yoy dari Rp549,23 triliun menjadi Rp576,78 triliun. DPK juga tumbuh sebesar 11,3% dari Rp595,07 triliun pada 2019 menjadi Rp662,38 triliun pada semester I-2020.

Bank terbesar keempat di Indonesia ini masih mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 4,4% menjadi Rp 880,12 triliun. Akan tetapi, terjadi kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) pada akhir Juni 2020 menjadi 3% dari tahun sebelumnya 1,8%.

Faktor Kolusi

Dengan melihat hasil kinerja keuangan tersebut, Eko menilai bahwa penempatan seseorang di sebuah perusahaan, belum tentu berpengaruh kuat terhadap kinerja ke depannya.

Menurutnya, agenda pengangkatan sederet bankir Mandiri tersebut lebih kuat dilatarbelakangi oleh faktor koordinasi dan jaringan. Hal itulah yang memungkinkan kecepatan untuk bekerja sama. “Artinya, masing-masing individu sudah saling mengetahui karakternya,” jelas Eko.

Selain itu, pengangkatan tersebut juga dapat menimbulkan kecemburuan dari bankir bank lain. Seolah-olah, kata Eko, talent dari bank lain tidak cukup kompeten atau sejajar dengan bankir Mandiri.

Menurut alumnus Magister Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini, tingkat kesuksesan dari sebuah bank juga dapat dilihat dari aspek kolaborasi. Bagaimana perbedaan latar belakang, keahlian, dan pemikiran dapat menyatukan sebuah produk perbankan.

“Kalau kemudian strateginya hanya didominasi oleh orang-orang yang sudah saling kenal, namanya bukan kolaborasi,” ujar Eko.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Sunarso memperoleh predikat sebagai CEO Visioner Perusahaan Tbk terbaik sekaligus CEO Talent Development terbaik dalam ajang 9th Anugerah BUMN 2020. Sunarso adalah bankir alumnus Bank Mandiri / BRI

Lebih Kompeten, Buktinya?

Senada dengan Eko, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai, keputusan Erick dalam menempatkan para bankir Mandiri tersebut kurang tepat. Sebelumnya, kata Piter, perputaran antardireksi bank selalu dilakukan secara seimbang.

“Orang (pejabat) di BRI bisa menjadi dirut di bank Mandiri, begitu pula dirut Mandiri bisa menjadi dirut di BNI, dan sebagainya,” ungkap pengamat ekonom senior tersebut. Menurutnya, hal itu jauh lebih baik ketimbang menempatkan banyak orang dari satu bank yang sama sekaligus.

Piter juga sempat berseloroh, jika semua bankir Mandiri ditempatkan di setiap bank pelat merah, maka himpunan bank milik negara (Himbara) pun bisa berubah nama menjadi himpunan bank milik Mandiri (Himbiri).

Selain itu, ia juga mempertanyakan kompetensi bankir Mandiri yang dinilai jauh lebih baik dibandingkan dengan bankir dari bank pelat merah lainnya.

“Buktinya mana? Apa yang menjadi tolok ukur bahwa pejabat Bank Mandiri jauh lebih baik daripada SDM di bank BUMN lainnya?” tanya dia.

Direktur Utama BTN Pahala Nugraha Mansury bersama jajaran direksi Bank BTN. Pahala adalah bankir alumnus Bank Mandiri / Facebook @www.btn.co.id

Fokus dan Kelebihan Setiap Bank

Menurutnya, setiap bank pelat merah sudah memiliki fokus kinerja dan kelebihan masing-masing, seperti BTN yang andal dalam pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR), atau BRI yang kuat menjamah sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Seperti diketahui, pada akhir kuartal I-2020, penyaluran pembiayaan dan kredit BTN senilai Rp253,25 triliun. Posisi tersebut tumbuh 4,59% yoy dibandingkan dengan Rp242,13 triliun pada kuartal I-2019.

Menurut Direktur Utama BTN Pahala N. Mansury, penopang terbesar pertumbuhan kredit berasal dari segmen KPR subsidi yang mencatatkan lonjakan sebesar 10,57% yoy dari Rp101,9 triliun pada kuartal I-2019 menjadi Rp112,78 triliun pada periode yang sama tahun ini. Segmen tersebut menempati porsi sebesar 44,53% dari total kredit di emiten bersandi saham BBTN tersebut.

Pada segmen KPR non-subsidi yang menempati porsi sebanyak 31,58%, terekam penyaluran kredit sebesar Rp79,99 triliun pada kuartal I-2020. Secara total, kredit di sektor perumahan di Bank BTN mencatatkan kenaikan sebesar 4,14% yoy dari Rp219,73 triliun pada Maret 2019 menjadi Rp228,82 triliun di bulan yang sama tahun ini.

Segmen kredit non-perumahan juga mengalami kenaikan sebesar 9,05% yoy dari posisi sebesar Rp22,41 triliun pada 31 Maret 2019 menjadi Rp24,43 triliun di periode yang sama tahun ini. Kenaikan terbesar di segmen ini ditopang melesatnya penyaluran kredit korporasi sebesar 87,75% yoy menjadi Rp6,54 triliun pada 31 Maret 2020.

Sementara itu, BRI pada periode ini mengaku terus berupaya mengakselerasi aktivitas ekonomi pelaku UMKM, di antaranya dengan menyalurkan pinjaman secara selektif. Hingga akhir Juni 2020, tercatat kredit yang disalurkan BRI secara konsolidasi sebesar Rp922,97 triliun atau tumbuh 5,23% yoy. Pencapaian tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan kredit industri perbankan pada Juni 2020 sebesar 1,49% yoy.

Dari total pinjaman tersebut, sebesar 78,58% di antaranya atau senilai Rp725,27 triliun disalurkan ke segmen UMKM. Perseroan pun menargetkan 80% portofolio pinjaman BRI pada 2022 mendatang merupakan pinjaman yang disalurkan ke segmen UMKM.

Daftar perusahaan kakap Indonesia yang masuk dalam jajaran 2000 top global companies versi majalah Forbes 2020. / Forbes.com

Belum Siap Go Global

Piter menambahkan, apabila alasan Erick merombak jajaran direksi karena ingin menjadikan BNI go global, Bank Mandiri sendiri belum mencapai tingkatan tersebut.

“Kurang tepat, lah. Hal ini kan tidak berarti harus di-Mandiri-kan semua,” katanya.

Selain itu, ia menilai kondisi keuangan di Indonesia saat ini belum mampu untuk go global. “Daya saingnya masih lemah,” tambahnya.

Mengenai kompetensi para bankir yang dianggap lebih unggul, Piter juga menggap hal itu merupakan sebuah kekeliruan. “Itu sebuah kekeliruan karena beranggapan semua bankir lebih baik dibandingkan yang lain,” katanya.

Apabila cara berpikirnya demikian, lanjut Piter, kedekatanlah yang menyetir seseorang untuk dilihat lebih baik dibandingkan dengan yang lain. Menurutnya, kalaupun yang ter-blow up adalah para bankir, bukan berarti talenta lain tidak mempunyai potensi yang kuat.

“Memang kelebihan dari bankir adalah mereka paham dalam mengelola keuangan, akan tetapi itu tidak dapat dijadikan satu-satunya faktor melihat kompetensi seseorang,” tutur Piter. (SKO)

Tags:
Bank MandiriBNIBRIBTNErick ThohirHeadlineindefperbankanPiter AbdullahPT Bank Mandiri (Persero) TbkPT Bank Negara Indonesia (Persero) TbkPT Bank Rakyat Indonesia (Persero) TbkPT Bank Tabungan Negara (Persero) TbkRoyke Tumilaar
Aprilia Ciptaning

Aprilia Ciptaning

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: