Analis: Buyback dan Stock Split Akan Mendorong Saham Saratoga Makin Atraktif

April 15, 2021, 07:46 PM UTC

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Konglomerat Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Salahuddin Uno bermitra untuk mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. sejak 1997. / Dok. Perseroan

JAKARTA – Emiten investasi PT Saratoga Investama Tbk (SRTG) terlihat agresif menjalankan sejumlah aksi korporasi. Teranyar, perseroan kembali meningkatkan kepemilikan sahamnya sebanyak 4,34% di PT Mitra Pinastika Mustika Tbk (MPMX).

Sebelumnya, Saratoga berencana melakukan beli kembali (buyback) saham senilai Rp150 miliar. Perseroan juga akan melakukan stock split saham dengan rasio pemecahan saham 1 banding 5 (1:5).

Buyback saham Saratoga dilakukan sebanyak-banyaknya 0,92% saham dari modal disetor atau maksimum hingga 25 juta lembar saham. Transaksi ini akan dilaksanakan setelah memperoleh persetujuan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 28 April 2021 sampai RUPS selanjutnya yang akan diadakan paling lambat 30 Juni 2022.

Saratoga menyatakan pembelian saham maksimal sebanyak 0,92% dilakukan seiring dengan keyakinan harga saham belum mencerminkan kinerja yang sesungguhnya. Berbagai aksi korporasi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk terus mendorong pertumbuhan bisnis perusahaan investasinya.

Apalagi di tengah pandemi COVID-19 yang masih terjadi saat ini, banyak peluang yang masih dapat dioptimalkan oleh perseroan. Strategi Saratoga fokus berinvestasi pada perusahaan early-stage, growth-stage dan special situation opportunities.

Prospek Menarik

Dalam pandangan Fendi Susiyanto, analis pasar modal dari Finvesol Consulting, berbagai aksi korporasi yang dilakukan Saratoga berpotensi besar menciptakan nilai tambah sekaligus menjadikan prospek investasi saham ini akan semakin menarik. Apalagi, secara fundamental harga saham berkode SRTG tersebut masih tergolong undervalued atau dibawah harga wajarnya.

Strategi Saratoga yang fokus pada perusahaan yang sedang bertumbuh (growth-stage) atau mengawali pertumbuhan (early stage) pada tiga sektor utama yang prospektif dengan target internal rate of return (IRR) di atas 20% per tahun, dinilai Fendi, merupakan strategi yang baik untuk meningkatkan nilai perusahaan secara cepat dan sustain.

“Tiga sektor investasi yang dipilih Saratoga merupakan kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu sector Natural Resources, Infrastructure dan Consumer Goods. Recovery ekonomi pasca pandemi akan memberikan momentum penguatan bisnis lebih cepat pada perusahaan-perusahaan investasi Saratoga,” ujarnya di Jakarta, Kamis 15 April 2021.

Berkat diversifikasi investasi di tiga sektor strategis tersebut, meski tahun lalu ekonomi Indonesia mengalami kontraksi, Saratoga justru meraih kenaikan laba bersih sebesar 20% menjadi Rp8,82 triliun. Nilai aset bersih (net asset value/NAV) perseroan pada akhir tahun lalu melesat 39% hingga Rp31,70 triliun.

Fendi menilai, Saratoga memiliki portofolio investasi yang dominan pada segmen pasarnya. Misalnya PT Adaro Energi Tbk (ADRO) dan PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG) yang sudah memasuki perusahaan matang.

Saratoga juga memiliki investasi di perusahaan yang masih dalam fase pertumbuhan seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX).

Sepanjang 2020, nilai investasi Saratoga di MDKA naik 120% menjadi Rp10,18 triliun dan nilai investasi di TBIG tumbuh 56% menjadi Rp12,64 triliun.

Tahun lalu Saratoga juga berhasil membukukan pendapatan dividen sebesar Rp750 milliar. Sebagian besar dikontribusikan oleh ADRO sebesar Rp215 miliar, TBIG Rp214 miliar, MPMX sebesar Rp210 miliar dan PT Provident Agro Tbk (PALM) sebesar Rp105 miliar.

Pertumbuhan Bisnis dan Fundamental Kuat

Direktur Investasi Saratoga Devin Wirawan menjelaskan sejumlah perusahaan portofolio Saratoga menemukan momentum pertumbuhan bisnisnya selama pandemi tahun lalu.

Ia menyebut kinerja MDKA terus menguat berkat kenaikan harga komoditas emas dan tembaga yang sangat tinggi pada 2020.

Selain itu, kata Devin, migrasi masyarakat yang semakin cepat ke ekosistem digital telah memberikan peluang yang semakin besar kepada TBIG sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi.

Di sektor konsumer, Saratoga berinvestasi di PT Famon Awal Bros Sedaya (Primaya Hospital). Grup Primaya Hospital ini terus memperluas jaringannya untuk mendukung upaya pemerintah memberikan fasilitas kesehatan terbaik dan terjangkau, termasuk dalam penanggulangan COVID-19.

Menurut Fendi, secara teknikal saham SRTG sedang berkonsolidasi dalam pola symmetrical triangle, pascakenaikan yang signifikan dari harga sebelumnya Rp3.500 ke harga Rp6.250.

Pola konsolidasi yang sedang terjadi dengan tren penguatan besar yang terlihat dari tiga garis moving average periode jangka pendek hingga panjang yang uptrend, menunjukkan ada peluang besar harga naik hingga mencapai level Rp8.700 hingga Rp 9.600 sebagai target harga penguatan secara teknikal.

Fendi menambahkan, secara fundamental, SRTG yang memiliki NAV sekitar Rp32,6 trilliun, dengan metode valuasi diskon holding sebesar 25%, maka nilai wajar SRTG sebesar Rp24,45 triliun.

Jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar SRTG saat ini sebesar Rp15,73 triliun (harga saham Rp5.800), maka harga saham SRTG masih mencerminkan potensi kenaikan sebesar 55.4% ke harga wajarnya untuk mencapai intrinsic value sebesar Rp9.015 per lembar saham.

“Secara umum, harga saham SRTG undervalued dan sangat atraktif untuk tujuan trading maupun investasi jangka panjang. Rencana buyback menunjukkan keyakinan manajemen SRTG untuk melakukan reinvestasi pada dirinya sendiri karena dipandang masih undervalued,” imbuh Fendi.

“Stock split juga akan membuat secara psikologis saham SRTG menarik bagi trader maupun investor karena harga saham akan dipecah menjadi lebih kecil nominalnya sehingga lebih likuid,“ tutupnya. (LRD)