AMVESINDO Ajak Start Up Pangan Manfaatkan Teknologi Iradiasi Nuklir

25 Agustus 2021 16:05 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Laila Ramdhini

Petani memanen padi di sebuah area persawahan di kawasan Bogor, Jawa Barat, Senin, 23 Agustus 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Asosiasi Modal Ventura untuk Start Up Indonesia (AMVESINDO) mengajak para entrepreneur start up khususnya di bidang pangan untuk menggunakan iradiasi pangan demi meningkatkan efisiensi bisnis.

Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (AMVESINDO) Jefri Sirait melihat kebanyakan start up pangan leboh banyak hadir pada lapis downstream atau hilir saja. Sedangkan pada layer upstream atau hulu belum banyak diberikan sentuhan inovatif.

Melalui iradiasi, komoditas pangan seperti sayuran, buah-buahan, hingga olahan lainnya akan menjadi lebih awet dan higienis. Hal ini akan sangat berguna karena dalam bisnis pangan, keawetan pangan dan higienitas masih menjadi isu, terutama ketika harus melewati pengiriman antar kota serta provinsi. 

Menurut Jefri, tantangan utamanya terletak pada pengiriman ekspor ke luar negeri, di mana pasar ekspor komoditas pangan nasional sedang mengalami peningkatan tren.

“Tidak hanya masalah keawetan saja, tapi dengan proses iradiasi bahan makanan juga bisa terbebas dari jamur dan mikroba berbahaya lainnya,” kata Jefri dalam keterangan resmi, Rabu 25 Agustus 2021.

Menurutnya, aspek inilah yang memberikan nilai tambah yang cukup signifikan. Seperti yang diketahui, sejak pandemi COVID-19 tahun kemarin, kesadaran masyarakat akan konsumsi makanan sehat meningkat sangat pesat yang berdampak juga pada tren gaya hidup sehat.

AMVESINDO mengungkapkan iradiasi pangan sudah lebih dahulu menjadi tren di belahan dunia lain seperti Amerika Serikat. Negara-negara lain di Eropa juga sudah menetapkan standar tinggi terhadap daya saing yang tidak mengorbankan aspek keawetan dan kesehatan. Diketahui teknologi iradiasi pangan juga sudah mendapat dukungan lebih dari 60 negara. 

“Yang terpenting adalah kami juga ingin mendukung para petani lokal di Indonesia agar tidak ada lagi fenomena ditolaknya penjualan hasil pangan. Beberapa di antaranya bahkan harus merelakan hasil produksinya terbuang karena sudah tidak bisa terjual, akibat anjloknya harga pada periode tertentu,” imbuh Jefri. 

Berita Terkait