Ampun Bank Jago! Market Cap ARTO Melejit Tembus Rp110 Triliun Usai GoPay Masuk, Gojek Profit Rp17,64 Triliun

24 Februari 2021 07:04 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Mitra Driver Gojek menunggu customer di dekat logo Bank Jago di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – PT Bank Jago Tbk (ARTO) menduduki jajaran emiten berkapitalisasi pasar jumbo alias big caps. Harga saham bank digital ini melejit selama sepekan terakhir dan membuat kapitalisasi pasar perseroan tembus Rp100 triliun.

Berdasarkan data RTI per 23 Februari 2021, saham ARTO telah melonjak 28,48% selama satu pekan perdagangan terakhir dan mencatatkan market cap senilai Rp110,19 triliun. Jika ditarik mundur selama satu tahun perdagangan, maka saat ini saham ARTO sudah meroket hingga 5.835,67%.

Setelah berhasil reli selama sepekan terakhir, saham ARTO dibanting hingga menyentuh auto reject bawah (ARB) atau anjlok 6,88% menuju level Rp10.150 per lembar pada akhir perdagangan Selasa, 23 Februari 2021.

Tak sampai di situ, saat ini saham ARTO sedang masuk dalam radar bursa terkait pergerakan saham di luar kebiasaan alias unusual market activity (UMA).

Pada 1 Juli 2020, saham ARTO juga sempat dinyatakan UMA dan berujung penghentian sementara perdagangan efek (suspensi) pada 6 Juli 2020.

Fundamental dan Prospek
Mitra Driver Gojek menunggu customer di dekat logo Bank Jago di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

Secara fundamental, laba bersih per saham (earning per share/EPS) ARTO minus Rp13 dengan price to earning ratio (PER) -781,77 kali. Sementara price to book value (PBV) 90,62 kali.

Sedangkan, net profit margin (NPM) perseroan tercatat -136,77% dengan return on equity (ROE) serta return on assets (ROA) masing-masing -11,59% dan -8,16%. Di sisi lain, debt equity ratio (DER) ARTO 42,03%.

Dengan catatan itu, analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menyatakan bahwa tingkat likuiditas saham ARTO masih minim kendati harganya terus membumbung. Hal ini membuat banyak investor mengalihkan pandangan kepada saham lain yang lebih likuid.

“Kalau saya lihat saham ARTO belum terlalu likuid ya, jadi investor lebih cenderung mencermati yang lebih likuid,” ujarnya kepada TrenAsia.com, Selasa 23 Februari 2021.

Di sisi lain, ia mengapresiasi masuknya ARTO sebagai jajaran emiten big caps. Menurutnya, hal ini diikuti dengan komitmen perseroan dalam menjaga tata kelola perusahaan yang baik.

“Paling tidak apresiasi ya dari saya terkait kenaikan market cap. Artinya ini dibarengi oleh komitmen ARTO dalam rangka good corporate governance (GCG),” tambahnya.

Nafan menilai, ke depannya Bank Jago akan mampu menghadapai ketatnya persaingan perbankan di Tanah Air. Syaratnya, perseroan harus bisa meningkatkan kinerja aset hingga menurunkan tingkat kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Diborong GoPay
Warga tengah melakukan transaksi pembayaran dengan menggunakan aplikasi Gopay di kawasan Tangerang. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

Tak dapat dipungkuri bahwa lonjakan harga saham ARTO beberapa waktu terakhir turut dipengaruhi oleh aksi borong saham yang dilakukan PT Dompet Karya Anak Bangsa (GoPay) pada pertengahan Desember 2020.

Perusahaan afiliasi PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek Indonesia) tersebut menambah kepemilikan saham sebanyak 1,96 miliar lembar di Bank Jago dengan nilai Rp1.150 per lembar atau total Rp2,25 triliun.

Nilai pembelian ini cukup murah mengingat harga saham ARTO pada perdagangan Jumat, 18 Desember 2020 berada di level Rp3.900. Jika merujuk pada harga itu, mestinya Gojek harus mengeluarkan uang paling sedikit Rp7,63 triliun.

Dengan perhitungan ini, maka Gojek pun sudah memiliki potensi profit Rp2.750 per lembar atau total Rp5,38 triliun. Nilai itu 213% lebih besar dibandingkan harga beli Gojek untuk saham ARTO.

Bahkan, jika dihitung harga saham ARTO pada akhir perdagangan Selasa, 23 Februari 2021, berada di level Rp10.150 per lembar, maka Gojek memiliki potensi untung Rp17,64 triliun.

Co-CEO Gojek Andre Soelistyo mengungkapkan, investasi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis Gojek. Diharapkan, dengan kemitraan ini maka Gojek dapat memberikan solusi keuangan yang lebih inklusif melalui teknologi.

“Bank berbasis teknologi seperti Bank Jago akan memperkuat ekosistem Gojek sekaligus akan membuka akses yang lebih luas kepada layanan perbankan digital bagi masyarakat Indonesia,” tutur Andre dalam siaran pers, Jumat, 18 Desember 2020.

Dengan adanya transasksi ini, maka Gojek kini telah memiliki total 2,4 miliar saham Bank Jago. Persentasenya mencapai 22,16% dari seluruh saham beredar. Sebelumnya, porsi kepemilikan saham Gojek di ARTO hanya 449,14 juta lembar atau 4,14%.

Sementara, PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) saat ini mengempit 37,65% saham ARTO dan Wealth Track Technology (WTT) memiliki 13,35% kepemilikan saham. Sisanya sebanyak 26,84% beredar di masyarakat. (SKO)

Berita Terkait