Ambisi Prajogo Pangestu Bawa Anak Usaha BRPT Star Energy Geothermal Melantai di BEI

19 Oktober 2021 01:30 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Amirudin Zuhri

Karyawan beraktivitas dengan latar layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 29 September 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia ( Ismail Pohan/TrenAsia)

JAKARTA – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) milik konglomerat Indonesia, Prajogo Pangestu berambisi membawa anak usahanya, PT Star Energy Geothermal untuk menggelar penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Star Energy Geothermal diketahui sebagai salah satu produsen energi panas bumi terbesar di dunia. Perusahaan ini fokus mencari sumber energi panas bumi terbarukan dan tengah membangun proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Wakil Presiden Direktur Barito Pacific Rudy Suparman mengatakan bahwa hal ini dipercaya dapat mendukung kinerja Star Energy Geothermal ke depan. Oleh karena itu, ia yakin perusahaan dapat menjadi perusahaan terbuka yang memiliki prospek cerah.

Di samping itu, ia mengaku bahwa pihaknya memiliki pengalaman di pasar modal. Selain BRPT, anak usaha lainnya yakni PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) juga terlebih dulu melantai di Bursa dan menjadi salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar paling jumbo.

“Kami mendorong entitas Grup Barito untuk menjadi perusahaan terbuka. Salah satu harapan kami adalah Star Energy Geothermal,” ujarnya dalam paparan publik yang digelar beberapa waktu lalu.

Sejatinya, rencana ini telah beredar pada akhir tahun 2020. Namun, padaa saat itu perusahaan berencana melakukan sejumlah ekspansi bisnis sebelum merealisasikan hal tersebut. Alhasil, saat ini Rudy menyampaikan bahwa arah rencana IPO makin terbuka lebar. 

Pasalnya, sejumlah ekspansi telah dilakukan oleh Star Energy dengan mengantongi tiga aset operasional pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan total kapasitas mencapai 875 MW yang terletak pada Kawasan Jawa Barat.

Ketiga aset operasional tersebut adalah PLTP Wayang Windu dengan kapasitas 227 MW, PLTP Salak berkapasitas 377 MW, dan PLTP Darajat sebesar 271 MW. Bahkan, Star Energy menargetkan peningkatan kapasitas menjadi 1.200 MW pada tahun 2028.

Dari sisi keuangan, Star Energy telah menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai US$100 juta – US$110 juta pada tahun 2021 dengan realisasi penyerapan sekitar 25 hingga 30% pada semester I-2021.

Berita Terkait