Ambisi Krakatau Steel Tingkatkan Likuiditas Usai Akhiri Kisah 8 Tahun Kerugian

28 Juli 2021 10:25 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Gedung Krakatau Steel di kawasan Gatot Subroto Kuningan. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Emiten pelat merah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) melakukan aksi korporasi baru di tengah kinerja yang sedang melaju kencang. 

Salah satu BUMN ini mengungkap rencana penerbitan Obligasi Wajib Konversi (OWK) seri B yang akan dikonversikan dengan saham baru melalui mekanisme Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement.

Krakatau Steel bakal menerbitkan OWK seri B dengan nominal maksimal mencapai Rp800 miliar. OWK dari emiten produsen baja ini bakal dicaplok oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI.

Perseroan beralasan penerbitan surat utang ini diperlukan untuk menunjang bisnis yang masih terdampak pandemi COVID-19. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), KRAS mengaku mengalami penurunan operasional dan produksi baja dari hulu ke hilir hingga 30%-50%. Di sisi lain, KRAS juga harus menghadapi rendahnya permintaan dan kemampuan modal kerja yang terbatas.

“Perseroan sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis perlu melakukan inisiatif kepada industri hilir dan industri pengguna untuk menggerakkan kembali perekonomian nasional, karena industri baja merupakan “Mother of Industries” yang memiliki multiplier effect yang sangat luas terhadap output ekonomi untuk sektor besi dan baja dasar,” ungkap Manajemen KRAS dalam keterbukaan informasi di BEI, dikutip Rabu, 28 Juli 2021.

Obligasi Wajib Konversi yang bakal dikonversikan menjadi saham baru ini memiliki tenor hingga 30 Desember 2027. Adapun harga konversi bakal mengacu pada 90% harga rata-rata saham KRAS di bursa selama 25 hari berturut-turut.

Sementara itu, bunga transaksi kupon OWK seri B bakal mengacu kepada suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Pada tahun lalu, Krakatau Steel juga telah telah menerbitkan OWK seri A dengan nilai maksimal mencapai Rp3 triliun.

Kemenkeu lagi-lagi mencaplok OWK seri A tersebut sebesar Rp2,2 triliun dalam rangka investasi pemerintah dengan dana yang bersumber dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2020.

Mempengaruhi Poforma 

Aksi korporasi anyar ini praktis bakal mempengaruhi poforma atau proyeksi laporan keuangan (lapkeu) KRAS usai OWK itu dikonversikan.

Dalam proforma yang diterima Trenasia.com, perseroan memproyeksikan adanya penambahan total aset dari US$3,59 miliar per akhir kuartal II-2021 menjadi US$3,64 miliar setelah penerimaan OWK seri B.

Lalu, posisi liabilitas menjadi bengkak dari US$3,1 miliar pada akhir kuartal II-2021 menjadi US$3,23 miliar setelah penerimaan OWK seri B.

Sementara bila OWK seri B telah dikonversikan, total aset diproyeksikan stagnan dan total liabilitas susut menjadi US$3,02 miliar. Selain penerbitan OWK, upaya KRAS meningkatkan likuiditas juga tampak dari strategi pelepasan kepemilikan saham di anak usaha PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI).

KRAS bakal melego 10%-40% kepemilikan saham di KSI. Kandidat kuat yang bakal membeli saham KSI dikabarkan adalah Indonesia Investment Authority (INA). Silmy menargetkan KRAS bisa mengantongi dana US$200 juta-US$300 juta atau setara Rp2,889 triliun-Rp4,34 triliun (asumsi kurs Rp14.476,00 per dolar Amerika Serikat) dari divestasi aset ini.

Meski berhasil meraih kenaikan kinerja tahun ini, Direktur Utama (Dirut) KRAS Silmy Karim mengatakan efisiensi masih dilakukan perseroan. KRAS tercatat membukukan kenaikan laba bersih hingga enam kali lipat lebih, tepatnya 619% year on year (yoy) pada semester I-2021.

Laba KRAS melesat dari Rp67 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp475 miliar pada semester I-2021. Capaian itu praktis turut mendongkrak earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) perseroan yang melesat 200% yoy dari Rp687 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp1,2 triliun pada semester I-2021.

Kinerja keuangan yang impresif itu rupanya terdorong oleh pertumbuhan volume penjualan produk baja hingga 43,8% yoy. KRAS mencatatkan volume penjualan hot rolled coil (HRC) dan Cold Rolled Coil (CRC) menjadi 995.000 ton atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 692.000 ton.

Sorotan kebangkitan emiten pelat merah ini ada pada volume penjualan ekspor yang melesat hingga 1500% atau setara 15 kali lipat. Volume penjualan ekspor KRAS melejit dari 10.817 ton pada semester I-2020 menjadi 162.243 ton pada semester I-2021.

Atas capaian ini, KRAS membukukan kenaikan pendapatan 90,9% dari Rp8 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp15 triliun pada semester I-2021.

Berita Terkait