Alhamdulillah Tak Perlu Impor, Stok Beras 2021 Aman dan Melimpah

March 04, 2021, 11:31 PM UTC

Penulis: Reza Pahlevi

Presiden Joko Widodo saat melakukan pengecekan gudang beras dan gula di Perum Bulog beberapa waktu lalu / Dok. Setneg

JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjamin ketersediaan beras nasional akan aman. Hal ini didasarkan dari kenaikan produksi beras pada tahun 2020 yang mengalami kenaikan sebanyak 21.500 ton.

“Penemuan BPS (Badan Pusat Statistik) mengindikasikan bahwa panen tahun ini akan lebih baik daripada tahun-tahun lalu. Jumlahnya naik walau tidak banyak, dari 31,31 juta ton menjadi 31,33 juta ton,” ujar Mendag Muhammad Lutfi dalam konferensi pers, Kamis, 4 Maret 2021.

Selanjutnya, Kemendag juga sudah berkoordinasi dengan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memastikan cadangan beras ada dan dapat didistribusikan.

“Berapa jumlahnya dan kapan sampainya itu ada di tangan saya. Itu adalah tanggung jawab saya memastikan stok ada dan kapan dikeluarkannya sesuai kebutuhan yang kita perlukan,” ujar Mendag.

Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyatakan Bulog menargetkan serapan beras minimal 1,45 juta ton di tahun ini.

Saat ini, Budi Waseso mencatat ada stok 950.000 ton beras di Bulog. Angka tersebut lebih banyak 150.000 dari kebutuhan cadangan beras pemerintah dalam setahun. Atas dasar itu, dirinya merasa tidak perlu ada impor beras tahun ini.

Pada 1 Maret lalu, BPS memaparkan produksi padi pada 2020 sebesar 54,65 juta ton gabah kering giling (GKG). Ini merupakan kenaikan sebanyak 45,17 ribu ton atau 0,08 persen dibandingkan 2019 yang sebesar 54,60 juta ton GKG.

Jika dilihat menurut caturwulan, terjadi peningkatan produksi padi pada caturwulan Mei-Agustus dan September-Desember 2020, yaitu masing-masing sebesar 1,14 juta ton GKG atau 6,04% dan 2,68 juta ton GKG atau 22,54% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.

Penurunan hanya terjadi pada caturwulan Januari–April 2020, yakni sebesar 3,78 juta ton GKG atau 15,91% dibandingkan dengan caturwulan Januari–April 2019. (SKO)