Alhamdulillah Laba BRIS Tembus Rp742 Miliar, Pembiayaan Ditarget Naik 10 Persen

May 07, 2021, 05:32 AM UTC

Penulis: Sukirno

Nasabah mengantre untuk melakukan transaksi di kantor cabang Bank Syariah Indonesia (BRIS) Jakarta Hasanudin, Jakarta, Rabu, 17 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI berhasil mengantongi laba bersih Rp742 miliar di tengah kondisi pandemi pada kuartal I-2021. Jumlah itu tumbuh 12,85% year-on-year (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp657 miliar.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan kenaikan kinerja pada triwulan I-2021 juga didorong oleh kenaikan pendapatan margin dan bagi hasil sebesar 5,16% yoy. Kenaikan laba ini didorong oleh ekspansi pembiayaan dan kenaikan dana murah yang optimal sehingga cost of fund atau biaya dana bagian dari keuntungan bank menjadi lebih besar.

“Untuk meningkatkan kinerja, pada tahun ini BSI fokus ke empat hal di antaranya mendorong pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan, me-manage efisiensi, akselerasi kapabilitas digital dan integrasi operasional pascamerger,” kata Hery dalam konferensi pers secara virtual, Kamis, 6 Mei 2021.

Dengan pertumbuhan laba yang tinggi, ia menambahkan, BSI dapat meningkatkan rasio profitabilitas ditandai dengan meningkatnya ROE (Return on Equity) dari 11,19% per Desember 2020 menjadi 14,12% per Maret 2021.

Dari sisi bisnis, Hery memaparkan, BSI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp159 triliun pada triwulan I-2021, naik 14,74% dari periode sama 2020 sebesar Rp138,6 triliun.

Komposisi pembiayaan terbesar disumbang oleh segmen konsumer Rp71,6 triliun (45% dari total pembiayaan), korporasi Rp37,3 triliun (23,5%), segmen kecil dan menengah Rp20,8 triliun (13,1%), Mikro Rp15 triliun (9,4%) dan komersial Rp9,6 triliun (6,1%).

Seiring dengan adanya kenaikan bisnis, BSI tetap menjaga kualitas pembiayaan ditunjukkan dengan tren penurunan kredit bermasalah (non performing finance/NPF gross) dari 3,35% di triwulan I-2020 menjadi 3,09% di triwulan I-2021.

Untuk meningkatkan prinsip kehati-hatian, menurut Hery, BSI juga telah mencadangkan cash coverage sebesar 137,48% sampai triwulan I-2021.

Penghimpunan Dana
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) resmi beroperasi mulai 1 Februari 2021 / Dok. Bank Syariah Indonesia

Dari sisi liabilitas, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI sampai triwulan I-2021 mencapai Rp205,5 triliun, naik 14,3% dibandingkan dengan periode sama 2020 sebesar Rp179,8 triliun.

Pertumbuhan tersebut didominasi oleh peningkatan Dana Murah (Giro dan Tabungan) sebesar 14,73% sehingga meningkatkan rasio CASA dari 57,54% pada triwulan I-2020 menjadi 57,76% di triwulan I-2021.

Dengan kinerja tersebut, sampai triwulan I-2021, BSI berhasil mencatatkan total aset sebesar Rp234,4 triliun naik 12,65% yoy dibanding periode sama 2020 sebesar Rp208,1 triliun. BSI juga mencatat kenaikan rasio permodalan (capital adequacy ratio/CAR) menjadi 23,1% di periode ini.

Terkait pemanfaatan teknologi digital, BSI juga terus meningkatkan kapabilitas digital, yang tercermin dari volume transaksi kanal digital BSI yang tumbuh signifikan sepanjang triwulan I-2021.

Nilai transaksi tersebut hingga Maret 2021, sudah menembus Rp40,85 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari transaksi melalui layanan BSI Mobile yang naik 82,53% yoy.

Sepanjang Januari-Maret 2021, volume transaksi di BSI Mobile juga tercatat mencapai Rp17,3 triliun dengan akumulasi jumlah transaksi dari platform tersebut mencapai 14,65 juta transaksi, atau tumbuh 72,35% yoy.

Secara umum, kenaikan volume transaksi melalui channel digital banking BSI sampai Maret 2021 naik 43,3% yoy. Selain oleh transaksi BSI Mobile (42%), kenaikan ini juga ditopang aktivitas nasabah pada kanal internet banking (24%), kartu debit/kredit (17%) dan ATM (14%).

Target BSI
Karyawan melayani nasabah di kantor cabang Bank Syariah Indonesia (BRIS) Jakarta Hasanudin, Jakarta, Rabu, 17 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Sementara itu, emiten bersandi saham BRIS ini mengincar penguatan penyaluran pembiayaan pada segmen konsumer yang sudah tumbuh positif pada triwulan I-2021.

“Pembiayaan konsumer dan retail ini terdiri dari (kredit) mitra guna berbasis payroll yang selama ini pertumbuhannya bagus secara kualitas,” kata Hery Gunardi.

Ia memaparkan saat ini pembiayaan kredit mitra guna berbasis payroll di tingkat Aparatur Sipil Negara (ASN), karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun profesi lainnya sudah memberikan kontribusi ke pertumbuhan pembiayaan.

Selain itu, tambah Hery, BSI akan mengincar penguatan di sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan mikro yang selama ini juga tercatat tumbuh positif dan membantu kinerja penyaluran kredit.

“Kita juga masuk ke linkage dan value chain UKM (SME) yang terbukti menjadi champion di daerah masing-masing, termasuk mikro kita tetap masuk, terutama yang produktif, selektif dan terjaga dari sisi kualitas,” katanya.

Kemudian, fokus pembiayaan di triwulan selanjutnya adalah kepada sektor wholesale lainnya yang selektif dan sudah terbukti aman seperti sektor yang mendapatkan penjaminan dari pemerintah maupun sektor yang mampu tumbuh positif.

“Kita banyak bekerja sama untuk underwriter pembiayaan yang sudah mendapat jaminan pemerintah seperti infrastruktur jalan, termasuk industri yang secara pertumbuhannya positif seperti healthcare, rumah sakit, industri rill maupun BUMN obat-obatan, elektronik dan pendidikan,” ujar Hery.

Dengan upaya tersebut, BSI memperkirakan pertumbuhan kredit pada akhir tahun bisa mencapai kisaran 9%-10%, dengan harapan pembiayaan yang sudah tumbuh dobel digit dapat terus bertahan.

Sebagai informasi, BSI juga telah menyalurkan pembiayaan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) hingga Rp8,6 triliun per 31 Maret 2021, atau 2,8 kali dari penempatan dana PEN oleh pemerintah sebesar Rp3 triliun untuk 63.000 debitur.

Bank ikut membantu nasabah yang terkena dampak COVID-19 dengan melakukan restrukturisasi pembiayaan kepada 96.000 nasabah sebesar Rp22,07 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 60.000 nasabah merupakan pelaku UMKM dengan restrukturisasi mencapai Rp7,96 triliun. (SKO)