Alasan Bank Lambat Turunkan Bunga Kredit

February 19, 2021, 07:00 PM UTC

Penulis: Ananda Astri Dianka

Bank Yudha Bhakti akan menggunakan hasil penerbitan rights issue untuk modal kerja pengembangan usaha, baik penyaluran kredit dan kegiatan operasional perbankan lainnya. / Yudhabhakti.co.id

JAKARTA – Perbankan dinilai lambat menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK). Padahal, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) hingga 3,5% bulan ini.

Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menuturkan penurunan SDBK perbankan masih terhambat sejumlah hal. Salah satu faktor utamanya yakni risiko kredit yang meningkat akibat pandemi COVID-19

Meskipun, Josua menilai rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perbankan tetap rendah, yakni 3,06% (bruto) dan 0,98% (neto).

“Trennya tetap meningkat ya NPL ini selama setahun terakhir, terutama sektor manufaktur,” ujar Josua kepada TrenAsia.com, Jumat, 19 Februari 2021.

Hal itulah yang menurutnya masih membatasi transmisi atau penyusuaian dari suku bunga perbankan. Dari semua faktor pembentuk kredit, tiap bank memang memiliki rasio yang beragam. Namun, risiko kreditnya cenderung seragam karena faktor pelambatan kredit.

“Tapi perbankan juga terus menurunkan bunganya kok,” tambahnya.

Untuk kecepatannya, ia tak menampik tiap bank memiliki kemampuan transmisi yang berbeda-beda tergantung tingkat likuiditasnya.

Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia menyatakan penurunan suku bunga kredit masih cenderung terbatas, yaitu hanya sebesar 83 bps ke level 9,70% selama 2020. Lambatnya penurunan suku bunga kredit disebabkan oleh masih tingginya SBDK perbankan.

Selama 2020, di tengah penurunan suku bunga kebijakan BI7DRR dan deposito 1 bulan, SBDK perbankan baru turun sebesar 75 bps menjadi 10,11%.  Hal ini menyebabkan tingginya spread SBDK dengan suku bunga BI7DRR dan deposito 1 bulan masing-masing sebesar 6,36% dan 5,84%.

Dari sisi kelompok bank, SBDK tertinggi tercatat pada bank-bank BUMN sebesar 10,79% diikuti oleh BPD 9,80%, BUSN 9,67% dan KCBA 6,17%.

Dari sisi jenis kredit, SBDK kredit mikro 13,75%, kredit konsumsi non-KPR 10,85%. Lalu, kredit konsumsi KPR 9,70%, kredit ritel 9,68%, dan kredit korporasi tercatat 9,18%.