Akulaku Suntik Modal Bank Yudha, Saham Gozco dan ASABRI Tergerus

May 11, 2020, 05:19 PM UTC

Penulis: Sukirno

Manajemen PT Bank Yudha Bhakti Tbk. / Yudhabhakti.co.id

Perusahaan teknologi finansial (financial technology/fintech) peer to peer (P2P) lending PT Akulaku Silvrr Indonesia (Akulaku), berkomitmen menambah modalnya di PT Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB).

Langkah itu dilakukan melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue Bank Yudha.

Melalui prospektus ringkas yang dirilis Senin, 11 Mei 2020, Bank Yudha menyampaikan akan menerbitkan 1,32 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp300 per saham. Artinya, bank dengan kode saham BBYB ini akan meraup dana segar Rp396,11 miliar.

Untuk merealisasikan target dana itu, Bank Yudha sudah dapat komitmen dari Akulaku. Perusahaan aplikasi kredit virtual yang didirikan oleh dua orang yang berasal dari Cina, yakni William Li dan Gordon Hu, menyatakan kesanggupannya untuk membeli saham baru Bank Yudha.

Akulaku merupakan pemiliki 24,08% saham Bank Yudha. Jika pemegang saham lain tidak melaksanakan haknya dalam rights issue ini, maka kepemilikan saham Akulaku di Bank Yudha naik menjadi 24,99%.

Selain Akulaku, pemegang saham Bank Yudha antara lain PT Gozco Capital, PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau PT ASABRI (Persero), Yellow Brick Enterprise Ltd., dan publik. Dari daftar pemegang saham yang ada, Gozco Capital dan ASABRI menyatakan tidak akan melaksanakan haknya.

Dengan begitu, kepemilikan Gozco Capital akan berubah jadi 19,61% dari sebelumnya 21,76%. Sementara kepemilikan ASABRI turun dari 20,13% menjadi 18,15%.

Sebagai tambahan informasi, Bank Yudha akan menggunakan hasil penerbitan rights issue untuk modal kerja pengembangan usaha, baik penyaluran kredit dan kegiatan operasional perbankan lainnya.

Rights issue ini juga akan membuat Bank Yudha naik kelas menjadi bank umum kategori usaha (BUKU) 2, bank dengan modal minimal Rp1 triliun hingga kurang dari Rp5 triliun. Per akhir 2019, modal Bank Yudha masih berkisar Rp906,88 miliar atau masih dalam kategori BUKU 1, bank dengan modal di bawah Rp1 triliun.

Kinerja Bank Yudha Bhakti

Sementara itu, bank dengan aset Rp5,1 triliun ini sudah berhasil membukukan laba bersih Rp13 miliar pada kuartal I-2020 dari sebelumnya rugi Rp136,99 miliar.

Dalam laman resmi Yudhabhakti.co.id yang dipublikasikan pada 8 Mei 2020, Bank Yudha mengakui laba kuartal I-2020 tersebut memang sedikit turun dari kuartal I-2019, yang membukukan Rp14 miliar, dikarenakan industri keuangan tengah menghadapi tekanan COVID-19.

Akan tetapi jika dibandingkan dengan total laba sepanjang tahun 2019, capaian di tiga bulan pertama ini cukup bagus mengingat perekonomian Indonesia sangat tertekan akibat COVID-19.

Selain itu, Bank Yudha Bhakti juga menegaskan sebenarnya perseroan telah menyelesaikan pemasalahan batas maksimum pemberian kredit (BMPK) dan penghapusan buku atas kredit yang dihadapi pada tahun lalu.

Hal tersebut disampaikan sehubungan dengan pemberitaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap fungsi pengawasan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap perbankan yang disinggung dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II-2019.

Penyelesaian permasalahan BMPK dan hapus buku kredit tersebut sudah diuraikan secara jelas dan gamblang dalam laporan keuangan Bank Yudha Bhakti tahun buku 2019 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Kanaka, Puradiredja Suhartono (anggota dari Nexia International) dengan opini wajar sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

Saat ini perseroan dalam proses merealisasikan hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) tahun lalu yaitu menambah modal pada semester I-2020, untuk dapat naik kelas menjadi BUKU 2. Hal ini dilakukan melalui mekanisme Penawaran Umum Terbatas III (PUT III) atau HMETD kepada pemegang saham.

Menyiasati strategi dalam menghadapi tantangan masa depan, sejak 2019 perseroan bersama-sama dengan PT Akulaku Silvrr Indonesia (Akulaku) sebagai salah satu pemegang saham bersiap untuk mengembangkan bisnis serta bertransformasi menuju perbankan digital.

Hal ini juga sebagai bentuk kesiapan perseroan dalam menghadapi tantangan industri keuangan di masa depan, yang akan lebih banyak didominasi oleh transaksi digital.

Pada perdagangan Senin, 11 Mei 2020, saham BBYB ditutup melejit 6,36% sebesar 14 poin ke level Rp234 per lembar. Kapitalisasi pasar saham BBYB mencapai Rp1,44 triliun dengan imbal hasil negatif 13,97% dalam setahun terakhir. (SKO)