Akuisisi Pinehill, Indofood CBP Milik Konglomerat Anthoni Salim Cetak Laba Rp3,96 Triliun

30 November 2020 15:05 WIB

Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto

Mi instan Indomie adalah produk unggulan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. / Facebook @indomie

JAKARTA – Emiten konsumer PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) berhasil mencetak laba bersih Rp3,96 triliun pada kuartal III-2020. Nilai tersebut naik tipis 1,99% dibandingkan dengan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp3,88 triliun.

Direktur Utama dan Chief Executive Officer ICBP Anthoni Salim mengungkapkan, pertumbuhan laba ini tidak lepas dari aksi perseroan mengakuisisi saham Pinehill Company Limited (PCL) pada Agustus 2020.

Waktu itu, dana sebesar US$2.99 miliar atau Rp43,99 triliun (asumsi kurs Rp14.714 per dolar AS) digelontorkan perseroan untuk membiayai perusahaan mie instan di Timur Tengah dan Afrika tersebut.

“Maka laporan keuangan PCL dikonsolidasikan ke dalam kinerja keuangan perseroan untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2020,” ungkap Anthoni dalam rilis resminya, Senin, 30 November 2020.

Dengan demikian, ICBP pun berhasil membukukan pendapatan Rp33,89 triliun atau naik 3,37% dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya Rp32,79 triliun.

Penjualan mie instan masih menjadi kontributor terbesar pendapatan dengan kontribusi dengan porsi 67,55% atau Rp22,89 triliun.

Segmen penyedap makanan menjadi lini bisnis dengan peningkatan penjualan tertinggi 21,51% dari Rp1,88 triliun menjadi Rp2,28 triliun. Di sisi lain, penjualan segmen minuman malah mengalami pemerosotan 36,06% dari Rp1,46 triliun menjadi Rp935,14 miliar.

Anthoni mengatakan, berkat pertumbuhan pendapatan tersebut, laba usaha perseroan pun turut terkerek naik 11% dari Rp5,81 triliun menjadi Rp6,42 triliun. Marjin laba juga naik dari 17,7% menjadi 19%.

Masih Tangguh

Kenaikan laba dan pendapatan ini, kata dia, mengisyaraktkan bahwasanya ICBP merupakan perusahaan konsumer yang cepat beradaptasi dengan keadaan. Buktinya, saat sebagian besar emiten konsumer mengalami penurunan laba, ICBP justru menikmati pertumbuhan profit.

“ICBP dapat menjaga konsistensi pertumbuhan kinerja pada periode sembilan bulan tahun 2020,” kata dia.

Pernyataan itu tidak salah mengingat kini, ICBP juga masih menjadi salah satu emiten konsumer dengan total aset terbesar, yakni Rp102,16 triliun.

Walaupun likuiditasnya sedikit mengalami penurunan 12,5% dengan nilai kas dan setara kas kuartal III-2020 Rp7,31 triliun berbanding dengan Rp8,36 triliun pada kuartal III-2019.

Sementara dari pos kewajiban, entitas usaha Grup Salim itu kini mencatatkan total liabilitas Rp54,47 triliun. Sedangkan ekuitasnya hanya Rp47,69 triliun.

Namun demikian, penurunan likuiditas yang dibarengi dengan pertumbuhan liabilitas ini tidak mengkhawatirkan mengingat kini ICBP sedang aktif melakukan aksi akuisisi.

“Pada saat ini kami juga sedang dalam proses mengintegrasikan kegiatan usaha yang baru saja diakuisisi, ke dalam ICBP,” terang Anthoni.

Sebagai informasi, pada perdagangan sesi I Senin, 30 Desember 2020, saham ICBP ditutup di zona merah dengan penurunan 5,66% ke level Rp10.000 per lembar.

Pada saat yang sama, kapitalisasi pasar (market cap) perseroan mencapai Rp116,62 triliun. Sementara nilai price to earning ratio (PER) ICBP kini masih di level 21,2 kal, lebih rendah dibandingkan rerata industri 23,8 kali.

Hingga 30 September 2020, mayoritas saham ICBP masih digenggam oleh Anthoni Salim melalui PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan total kepemilikan 80,53% saham. Dia merupakan orang terkaya ke-6 di Indonesia versi Forbes 2019 dengan total kekayaan US$5,5 miliar atau setara Rp88 triliun.

Berita Terkait