Aksi-aksi Liar 8 Konglomerat RI Saat Pandemi dan Jelang Resesi: Jual Aset Hingga Akuisisi

JAKARTA – Hujan deras tiba-tiba saja turun sekira satu jam usai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Senin, 21 September 2020. IHSG tersungkur di level 4.999,36 atau turun 1,18% dari perdagangan hari sebelumnya 5.059,22.

Hari itu, hampir seluruh sektor yang melantai di bursa terjerembab di zona merah. Hanya satu yang masih terlihat cukup baik, meski tidak signifikan, yakni sektor agrikultur. Sayangnya, peningkatan sektor agrikultur (1,27%) belum cukup menopang kinerja IHSG yang tergerus sejumlah sentimen negatif.

Kabar soal independensi Bank Indonesia (BI) yang bakal dilemahkan seolah telah memberi kabar buruk bagi pasar modal. Tak pelak, sejak perdangan sesi I pun IHSG tidak mampu bangkit dari zona merah.

Nasib serupa juga terlihat pada saham-saham emiten dengan valuasi terbesar di lingkaran Indeks LQ45. Pada sesi penutupan bursa di hari yang sama, saham-saham LQ45 kembali terpapras 1,58% dari sebelumnya 780,32 menjadi hanya 767,97.

Sejatinya, pergerakan IHSG selama masa pandemi COVID-19 memang lebih sering berkelir merah darah. Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG bahkan pernah terjerembab ke posisi terendahnya pada 24 Maret 2020 di level 3.937,63.

Tetapi perlahan, setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan, barulah kinerja IHSG mulai membaik. Pada 27 Agustus 2020, kinerja IHSG sempat menyentuh level 5.371. Hanya saja, angkanya masih jauh dari posisi terbaik pasar modal Indonesia, yakni 6.689,29 pada 19 Februari 2018.

Lanskap bangunan pusat perbelanjaan Lippo Mall Puri, di kawasan Jakarta Barat, Minggu, 6 September 2020. PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) menjual kepemilikan atas Lippo Mall Puri yang saat ini dikelola oleh anak usahanya PT Mandiri Cipta Gemilang (MCG) kepada penjual yang juga merupakan pihak yang terafiliasi dengannya yakni PT Puri Bintang Terang (PBT). Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Aksi Korporasi

Di luar pergerakan IHSG yang tampak suam-suam kuku itu,  rupanya masih ada satu hal yang cukup menarik dicermati, yaitu aksi korporasi para konglomerat. Sebagian dari mereka optimistis dengan melancarkan aksi-aksi ekspansif. Tetapi sebagian lainnya, memilih bersikap pesimistis dengan melego aset-aset andalanya.

Terbaru, aksi korporasi paling eksponensial dilakukan oleh konglomerat Sudhamek Agoeng Waspono Soenjoto. Melalui gurita bisnis miliknya PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD), Sudhamek ‘dengan lahap’ mencaplok 55% saham produsen keju Prochiz, PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU).

Total 825 juta lembar saham KEJU, dicaplok Sudhamek pada Jumat 18 September 2020. Dana yang digelontorkan pengusaha berusia 64 tahun ini ditaksir mencapai Rp1 triliun.

Hari itu, saat aksi korporasi tersebut diumumkan, saham GOOD langsung melesat bak kuda liar ke level Rp1.365 dari sebelumnya Rp1.285 per lembar. Pun demikian dengan saham KEJU, yang melambung jauh ke level Rp1.355 dari Rp1.220 per lembar.

Sebaliknya, aksi korporasi yang melempem dilakukan oleh konglomerat Mochtar Riady. Pada 31 Agustus 2020, perusahaan yang dimiliki Mochtar yakni PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) melepas satu malnya di Jakarta Barat senilai Rp3,5 triliun.

Lippo Mall Puri, salah satu mal terbesar di kawasan Jakarta Barat ini dilego LPKR ke anak usahanya di Singapura, yakni Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIRT). Aksi jual-beli itu terpaksa dilakukan perseroan guna membiayai operasional perusahaan yang sedang kembang-kempis.

Tak pelak, usai aksi penjualan itu dirilis, saham LPKR pun langsung tumbang ke level Rp154 per lembar dari sebelumnya Rp157. Bahkan kini, nilai saham LPKR semakin terjerembab ke level Rp128 per lembar.

BCA milik konglomerat terkaya RI melalui anak usahanya, BCA Finance, resmi mengakuisisi PT Bank Rabobank International Indonesia dengan nilai Rp500 miliar. / Rabobank.co.id

Kekuatan Perusahaan

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengungkapkan, aksi ekspansif dan jual para konglomerat ini sejatinya telah menggambarkan bagaimana wajah fundamental perusahaan.

Mereka yang tetap ekspansif, biasanya memiliki fundamental yang kuat. Sebaliknya, mereka yang menjual asetnya memiliki kecenderungan fundamental yang kurang baik.

Namun begitu, Hans juga menyebut bahwa penilaian ini tidak bisa serta merta dilihat dari sisi aksi korporasi semata. Investor juga perlu melihat bagaimana setiap sektor bertahan dari tekanan pandemi COVID-19.

Bagi sektor yang bergerak pada kebutuhan dasar, maka aksi ekspansif mungkin saja dilakukan karena dampak pandemi tidak begitu terasa untuk sektor ini. Apalagi, di masa ini banyak aset-aset perusahaan maupun individu yang akhirnya dijual murah. Tentulah ini menjadi peluang bagi perseroan untuk berekspansi dengan harapan nilai cuan tinggi di masa mendatang.

Sementara bagi sektor nonprimer, seperti properti dan retail maka akan kesulitan mempertahankan operasionalnya. Terlebih lagi, pandemi COVID-19 ini juga masih belum diketahui kapan berakhirnya. Tak ayal, aset perusahaan pun harus dilego demi mempertahankan likuiditas perusahaan.

“Bagi grup yang menghadapi kesulitan cashflow atau aliran kas, ini jadi waktu untuk merapikan dan membuat efesiensi company meningkat,” tutur Hans saat berbincang dengan TrenAsia.com, Minggu 20 September 2020.

Bagi Hans, tidak ada yang salah dengan aksi ekspansif ataupun jual aset pada perseroan. Sebab, pertarungan melawan pandemi COVID-19 diperkirakan juga masih akan cukup panjang.

Terlebih lagi, pada Oktober nanti, dunia sudah memasuki musim dingin. Di mana kondisi ini diperkirakan bakal membuat transmisi penularan COVID-19 semakin cepat.

Tentu saja, kondisi akan kembali memengaruhi kinerja sejumlah perseroan. Pasar modal dunia akan kembali tertekan. IHSG juga diproyeksi bakal terkoreksi cukup dalam.

“Biasanya Oktober–November kita harus hati-hati. Kita memantau dulu saat ini, karena mungkin pasar akan koreksi dulu,” tukas Hans.

Awak Media beraktivitas dengan latar belakang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jum’at, 17 Juli 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Deretan Aksi Konglomerat

Ya, Hans benar. COVID-19 mungkin belum akan berakhir dalam satu atau dua bulan. Bahkan, vaksin yang kerap digadang-gadang sebagai penawar paling ampuh pun belum ditemukan.

Tetapi, peluang investasi bukan berarti tidak ada. Toh, buktinya masih banyak emiten-emiten yang menunjukkan performa gemilang. Hanya saja, investor perlu lebih berhati-hati lagi mencermati setiap gerak-gerik perusahaan.

Sebab, sentimen kecil saja di masa sekarang ini bisa jadi bakal berpengaruh besar terhadap kinerja saham perseroan. Nah, untuk itulah TrenAsia.com pun merangkum sejumlah aksi korporasi yang telah dilakukan para konglomerat dalam satu tahun belakangan. Berikut daftarnya:

Michael Bambang Hartono adalah konglomerat paling kaya di Indonesia selama 10 tahun berturut-turut, bersama adiknya Budi Hartono sebagai pemilik Grup Djarum. / Istimewa

1. Hartono Bersaudara

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) milik Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono (Hartono Bersaudara) sempat mengakuisi dua Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) I pada akhir 2019. Dua bank tersebut adalah Bank Royal dengan nilai akusisi Rp319,7 miliar, dan Rabobank dengan nilai Rp397 miliar.

Rencananya, kedua bank, baik Bank Royal maupun Rabobank akan dimerger menjadi Bank BCA Digital. Keduanya diproyeksi untuk mengakuisisi sejumlah bank kecil lagi untuk menjadi bagian dari pengembangan BBCA di ranah digital.

Tak pelak, aksi akuisisi inipun bakal semakin menambah pundi-pundi kekayaan Hartono Bersaudara. Dilansir Forbes pada 2019, kekayaan dua bersaudara pemilik Grup Djarum ini telah mencapai Rp519,4 triliun. Keduanya tidak pernah lengser dari penghuni posisi pertama orang terkaya Indonesia sejak lebih dari satu dekade.

Kekayaan kedua putra dari pendiri Grup Djarum atau PT Dwimuria Investama Andalan, Oei Wie Gwan ini seakan tidak pernah surut sejak keduanya membeli saham BBCA pada 2007. Nilai kapitalisasi pasar BBCA terus meroket hingga kini sudah mencapai Rp690,95 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan BBCA per Juni 2020, sebanyak 54,49% saham perseroan masih dikuasai oleh PT Dwimuria Investama Andalan. Di mana 100% saham Dwimuria ini dipegang oleh Hartono Bersaudara. Budi Hartono memegang 51% saham, sedangkan Bambang memegang 49% saham.

Di luar BBCA, kedua konglomerat ini juga masih menanam saham di sejumlah perusahaan lain yang bergerak di beberapa sektor berbeda. Ada PT Polytron Indonesia yang bergerak di bidang elektronik. Ada juga PT Global Digital Niaga atau Blibli yang bergerak di bidang e-commerce.

Bahkan, melalui Global Digital Prima Venture (GDP Venture), sebuah perusahaan modal ventura juga turut mendanai beberapa perusahaan digital besar di Tanah Air. Termasuk Tiket.com, Gojek dan Kaskus.

Pemakaman pendiri Grup Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja, 2 Februari 2019. / Istimewa

2. Mendiang Eka Tjipta Widjaja

Eka Tjipta Widajaja meninggal pada usia ke-98 pada Januari 2019. Sebelum kematiannya, Eka tercatat masih menduduki posisi ke-2 orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan Rp134 triliun.

Pundi-pundi kekayaan mendiang Eka Tjipta mengalir dari gurita bisnisnya melalui Grup Sinar Mas. Ada setidaknya, 10 perusahaan dari Grup Sinar Mas yang melantai di BEI. Termasuk dua di antarnya PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM).

Per 21 September 2020, kapitalisasi pasar BSDE telah menyentuh angka Rp16,93 triliun. Sementara saham BSIM memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp8,32 triliun.

Namun, yang terjadi pada gurita bisnis Eka Widjaja ini memang cukup memilukan. Selepas kepergiannya, anak-anak dari Eka justru ‘saling sikut’ soal perebutan warisan.

Anak luar nikah Eka bersama dengan Lidia Herawaty Rusli yakni Freddy Widjaja menggugat saudara-saudaranya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) pada Juni lalu. Freddy menagih jatah warisannya dari grup Sinar Mas yang ditaksir senilai Rp673 triliun.

Pemilik sekaligus Presiden Direktur PT Gudang Garam Tbk. Susilo Wonowidjojo menempati posisi kedua orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes. / Foto: Dok. Gudang Garam

3. Susilo Wonowidjojo

Emiten rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) milik konglomerat Susilo Winowidjojo menggelontorkan uang Rp1 triliun untuk pembangunan Badara Dhoho, Kediri, Jawa Timur. Dana itu digelontorkan kepada PT Surya Dhoho Investama yang 99,9% sahamnya juga dimiliki GGRM.

Total, GGRM telah menempatkan dana Rp4 triliun untuk pembangunan bandara seluas 372 hektare tersebut. Rencananya, pembangunan Bandara Dhoho ini akan rampung pada 2023 dengan total investasi Rp6 triliun-Rp9 triliun.

PT Suryadata Investama tercatat masih sebagai pemegang saham mayoritas di GGRM dengan kepemilikan 69,29%. Diketahui mayoritas saham Suryadata Investama ini dikuasai oleh Susilo Wonowidjojo.

Laporan Forbes pada 2019, Susilo Wonowidjojo masih tercatat sebagai orang terkaya ke-4 di Indonesia. Kekayaaan Susilo ditaksir Rp92,4 triliun pada masa itu.

Pemilik Grup Indofood, Anthoni Salim saat meresmikan gerai Indomie di Afrika. / Facebook @indomie

4. Anthoni Salim

Grup Salim milik konglomerat Anthoni Salim resmi menjadi pemegang saham pengendali PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) bersama Pieter Tanuri pada Januari lalu. Melalui salah satu anak usahanya, yakni PT Indolife Pensiontama memborong 25% lebih saham milik Pieter Tanuri di BINA.

Dengan aksi ekspansif tersebut, kini Anthoni Salim Lewat Indolife Pensiontama telah menguasai total 48,96% saham BINA. Sebelumnya, per 6 Januari 2020, Indolife Pensiontama hanya menguasai 22,47% saham.

Indolife sendiri merupakan anak usaha PT Indofood CBP Sukes Makmur Tbk (ICBP) yang mayoritas sahamnya dimiliki Anthoni Salim. Melalui First Pacific Investment Management Limited (FPIML), Anthony menguasai 50,07% saham ICBP.

Tidak hanya itu, First Pacific telah menyetujui rencana Indofood CBP sebagai anak usaha tidak langsung perusahaan dalam mengakuisisi kepemilikan perusahaan pemilik pabrik mi di Timur Tengah dan Afrika Pinehill. Nilainya mencapai US$2,99 miliar atau setara dengan Rp44,2 triliun.

Dengan besarnya saham yang dimilikinya itu, tidak heran jika Forbes menempatkan Anthony Salim sebagai orang terkaya ke-6 di Indonesia. Total kekayaan Anthony Salim mencapai Rp82,3 triliun.

Konglomerat pemilik Grup Mayapada, Dato Sri Tahir saat dilantik sebagai Dewan Pertimbangan Presiden Joko Widodo. / Foto: Setpres

5. Dato Sri Tahir

PT Bank Mayapada International Tbk (MAYA) milik konglomerat Dato Sri Tahir dikabarkan telah menggelar right issue senilai Rp4,5 triliun pada Juni lalu. Aksi ini dilakukan korporasi untuk menunjang operasional Mayapada yang tergerus selama pandemi.

Namun, hingga berita ini dirilis, kabar terkait right issue itu masih belum jelas kelanjutannya. Cathay Financial Holding, perusahaan finansial asal Taiwan yang sempat diisukan bakal memborong saham MAYA, masih belum memberikan kepastian.

Sebelumnya, Tahir juga dikabarkan harus menjual tiga gedung miliknya untuk menambah permodalan bagi Bank Mayapada pada April 2020. Total uang yang didapat dari penjualan tiga gedung ini ditaksir mencapai Rp3,5 triliun.

Aksi korporasi ini tak pelak membuat kinerja saham MAYA di lantai bursa sejak 6 bulan terakhir sedikit terseok-seok. Terakhir, MAYA terlihat di lantai bursa pada 10 September 2020. Saat itu, nilai sahamnya anjlok 350 poin dari Rp6.250 per lembar menjadi Rp5.900.

Merosotnya nilai saham dan dilegonya sejumlah aset milik Mayapada, tentulah akan berdampak pada pundi kekayaan pemiliknya Dato Sri Tahir. Jika tahun lalu, Tahir masih betah di posisi ke-7 orang terkaya Indonesia dengan total kekayaan Rp72,8 triliun. Tahun ini, mungkin saja posisinya akan terlempar jauh dari 10 besar.

Konglomerat pemilik Grup Lippo Mochtar Riady / Nikkei

6. Mochtar Riady

Pada Agustus lalu, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) milik Mochtar Riady melepas satu malnya di Jakarta Barat senilai Rp3,5 triliun. Lippo Mall Puri, salah satu mal terbesar di kawasan Jakarta Barat ini dilego LPKR ke anak usahanya di Singapura, yakni Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIRT).

Dampaknya, usai aksi penjualan itu dirilis, saham LPKR tumbang di level Rp154 per lembar dari sebelumnya Rp157. Bahkan kini, nilai saham LPKR semakin terjerembab ke level Rp128 per lembar.

Mochtar Riady sendiri merupakan pemilik saham mayoritas dari LPKR. Bersama dengan gurita bisnisnya Lippo Group, Mochtar didapuk sebagai orang terkaya nomor 12 di Indonesia dengan kekayaan Rp29 triliun.

Konglomerat Kuncoro Wibowo, pemilik PT Ace Hardware Tbk dari Grup Kawan Lama / Forbes Indonesia

7. Kuncoro Wibowo

PT Ace Hardware Tbk (ACES) milik Kuncoro Wibowo harus menutup 42 gerainya usai penetapan PSBB di sejumlah wilayah di Indonesia. Jumlah gerai yang ditutup itu merupakan 22% dari total 201 gerai Ace Hardware di Indonesia.

Akibat penutupan itu, nilai saham terus melemah selama 6 bulan belakangan. Terakhir, pada perdangan Senin 21 September 2020, saham ACES ditutup melemah 95 poin dari Rp1.600 per lembar menjadi Rp1.505.

Kuncoro Wibowo sendiri sebagai pemilik diketahui sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Tahun lalu, Kuncoro bertengger di posisi 15 dengan kekayaan Rp23,8 triliun.

Chairman PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto. / Garudafood.com

8. Sudhamek Agoeng Waspono Soenjoto

PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD), Sudhamek ‘dengan lahap’ mencaplok 55% saham produsen keju Prochiz, PT Mulia Boga Raya Tbk. (KEJU).

Total 825 juta lembar saham KEJU dicaplok Sudhamek. Dana yang digelontorkan pengusaha berusia 64 tahun ini ditaksir mencapai Rp1 triliun. Tahun lalu, Sudhamek didapuk sebagai orang terkaya nomor 42 di Indonesia. Total kekayaannya ditaksir Rp11 triliun. (SKO)

Tags:
Aksi korporasiAnthoni SalimBCACovid-19Dato Sri TahirEka Tjipta WidjajaForbesHeadlineihsgIndomieKeluarga Hartonokonglomeratkonglomerat indonesiaKuncoro WibowoLippo GroupMochtar Riadyorang kayaperusahaan milik konglomeratSudhamekSusilo Wonowidjojo
Fajar Yusuf Rasdianto

Fajar Yusuf Rasdianto

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: