Akhir Tahun, Bank OCBC NISP Proyeksikan IHSG 6.700-6.900, Rupiah Rp14.150–Rp14.450

25 November 2021 18:30 WIB

Penulis: Adinda Purnama Rachmani

Editor: Vega Aulia

Karyawan beraktivitas di kantor Bank OCBC NISP, Kuningan, Jakarta, Selasa, 2 November 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) memproyeksikan bulan Desember akan menjadi bulan untuk window dressing, sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan ditutup di kisaran 6.700 – 6.900 pada akhir tahun.

Proyeksi tersebut tertulis dalam Monthly Outlook OCBC NISP yang diterima TrenAsia.com, seperti dikutip Kamis, 25 November 2021.

OCBC NISP mencatat IHSG telah naik 4,8% di bulan Oktober. Ini merupakan kenaikan per bulan terbesar kedua di tahun 2021. Setelah rebound yang kuat bulan lalu, pihaknya memperkirakan bahwa IHSG akan bergejolak bulan ini (November) dengan adanya pelemahan.

Pada Oktober, katalis positif yang utama adalah angka positif COVID-19 per hari yang berada di level terendah, hanya 500 kasus per hari.

Selain itu, data ekonomi juga mengkonfirmasi bahwa Indonesia sekarang sudah dalam fase pemulihan. Ekonomi mencatat peningkatan sebesar 3,51% selama kuartal tiga, membuktikan bahwa ekonomi sudah dalam proses perbaikan.

Di sisi lain, kenaikan di pasar saham juga didukung oleh masuknya dana asing sebanyak US$918 juta. Ditambah lagi, dengan memasuki earnings season, baik dalam pasar domestik maupun global, telah menjadi faktor pendukung untung IHSG.

Masih pada bulan Oktober, OCBC NISP mencatat rupiah menguat terhadap US dolar, dari Rp14.313 ke Rp14.100 per dolar Amerika Serikat (AS) sesaat, dan kemudian ditutup di Rp14.168 per dolar AS pada akhir bulan.

“Dengan ekonomi yang kini berada pada fase pemulihan, prospek pertumbuhan ekonomi kini terlihat lebih jelas. Dengan demikian, kami memperkirakan USD/IDR akan diperjualbelikan di Rp14.150 – Rp14.450 (per dolar AS) selama sisa tahun 2021,” tulis laporan tersebut.

Sementara itu, yield obligasi pemerintah dengan tenor 10-tahun jatuh dari 6.26% ke 6.06% di bulan Oktober. Pengumuman yang dibuat oleh the Fed untuk memulai mengurangi pembelian aset secara bertahap sebelum akhir November telah menjadi tekanan untuk pasar obligasi.

Seperti diketahui, the Fed sebelumnya telah mengumumkan bahwa dovish tapering akan dilaksanakan sebelum akhir November. Program pembelian obligasi dikurangi sebanyak US$15 miliar, dari yang sebelumnya US$120 miliar per bulan ke US$105 miliar.

Kabar baiknya adalah Ketua the Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral AS tidak akan menaikkan suku bunga utama dalam waktu dekat, saat ini berada di 0,25% setidaknya sampai pasar tenaga kerja menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Dari dalam negeri, pada awal November, pemerintah Indonesia telah mengumumkan untuk menghentikan pelelangan obligasi karena target 2021 telah tercapai.

“Sehingga kini kami dapat memperkirakan bahwa (yield) obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun akan diperjualbelikan di level 6% - 6,3% sampai akhir tahun,” tulis laporan tersebut.

Berita Terkait