Ahli Waris Korban Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Bakal Terima Santunan Asuransi Rp1,25 Miliar

10 Januari 2021 21:25 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Petugas gabungan meletakkan serpihan pesawat di Posko Evakuasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta – Pontianak di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu, 10 Januari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memastikan para korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 menerima hak asuransi setidaknya Rp1,25 miliar. Dalam hal ini, ia akan berkomunikasi dengan pihak maskapai sekaligus mendata keabsahan ahli waris sebagai penerima.

“Kami akan memastikan proses klaim asuransi sesuai dengan koridornya,” mengutip keterangan tertulis Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu, Minggu, 10 Januari 2021.

Menurutnya, semua tergantung dari hasil investigasi atas kecelakaan tersebut. Nantinya, fitur polis akan disesuaikan dengan kontraknya. Korban kecelakaan pesawat ini akan diberikan jaminan atas klaim pembayaran asuransi komersial bagi para pemilik polisnya masing-masing. 

Akan tetapi, nilai klaim asuransi bagi korban pesawat memiliki aturan tersendiri. Di tataran praktik internasional, nilai santunan dan asuransi itu diatur dalam Konvensi Montreal.

Dalam artikel 21 Konvensi Montreal, maskapai penerbangan harus memberikan kompensasi kepada penumpang atau keluarga penumpang sebesar 100.000 special drawing rights (SDR) untuk korban, baik cedera maupun meninggal.

SDR merupakan satuan mata uang yang biasa digunakan oleh International Monetary Fund (IMF). di situs resmi IMF, nilai 1 SDR sama dengan sekitar US$1,5 atau tepatnya US$1,47 per Oktober 2018.

Berdasarkan kurs BI hari ini, Jumat, 8 Januari 2021, nilai tukar rupiah berada pada level Rp14.058 per dolar Amerika Serikat (AS). Maka jika mengacu ke Konvensi Montreal, nilai santunan bisa mencapai lebih dari Rp2,06 miliar per korban.

Di Indonesia, ada kebijakan tersendiri juga meski tetap menghormati Konvensi Montreal.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan pada 8 Agustus 2011 mengeluarkan Permenhub No.PM 77/Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara, yang diteken Menteri Freddy Numberi.

Aturan kompensasi angkutan udara tersebut juga telah disesuaikan dengan beleid lainnya seperti UU No.2/1992 tentang Perasuransian, UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, dan tentu saja UU No.1/2009 tentang Penerbangan.

Berdasarkan Permenhub No.77 itu, korban jiwa karena kecelakaan pesawat mendapatkan santunan Rp1,25 miliar.

Kewajiban santunan itu pun telah diterapkan dan dibayarkan kala terjadi musibah pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak, Bogor pada 9 Mei 2012, yang menewaskan 45 jiwa.

Selain itu, santunan besar juga diberikan kepada ahli waris dari 162 penumpang pesawat AirAsia QZ8501 yang mengalami musibah di Laut Jawa pada 28 Desember 2014.

Saat jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018, juga diberikan hak ahli waris masing-masing Rp1,3 miliar. Saat itu, pesawat nahas tersebut membawa 189 penumpang sehingga total asuransi yang dibayarkan Rp245 miliar.

Angka Rp1,25 miliar itu mungkin lebih kecil dari pada SDR100.000 (Rp2,06 miliar) tetapi setidaknya kompensasi tersebut diharapkan mampu mengurangi beban finansial keluarga yang ditinggalkan.

Sementara untuk para ahli waris dari penumpang yang meninggal dunia, disebutkan berhak atas santunan sebesar Rp50 juta yang berasal dari iuran wajib Jasa Raharja (IWJR) dari PT Jasa Raharja (Persero).

Petugas gabungan meletakkan serpihan pesawat di Posko Evakuasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta – Pontianak di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu, 10 Januari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
Sriwijaya Air Hilang Kontak

Seperti diketahui, pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta – Pontianak hilang kontak (lost contact) tidak lama setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu, 9 Januari 2021.

Sriwijaya Air sendiri telah mengonfirmasi jumlah penumpang yang hilang. Theodora Erika Senior Manager Corporate Communication Sriwijaya Air menuturkan dalam pesawat jenis Boeing 737-500 tersebut ada 6 awak kabin aktif dan 56 penumpang.

“Adapun rincian penumpang dalam penerbangan SJ-182 adalah 40 dewasa, 7 anak-anak, 3 bayi dan 6 awak kami sebagai penumpang,” ujar Erika dalam pesan instan kepada TrenAsia.com.

Hingga saat ini, kata Erika, pihaknya terus berkoordinasi dengan otoritas terkait dan menyediakan seluruh dukungan yang dibutuhkan.

Untuk keluarga dan kerabat, dapat menghubungi nomor hotline Sriwijaya Air di 021 – 8063 7816 dan 021 – 8063 7817. “Doa kami iringkan bagi seluruh penumpang dan awak pesawat kami serta keluarga,” kata dia. (SKO)

Berita Terkait