Adu Kinerja Bank Konvensional Versus Bank Digital, Siapa Paling Andal?

31 Agustus 2021 09:09 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Sukirno

Adu Kinerja Bank Konvensional Versus Bank Digital. Ilustrasi: Deva Satria/TrenAsia (Trenasia.com)

JAKARTA – Perbankan menjadi sektor yang cukup menggairahkan bursa pada tahun ini. Sektor ini menjadi buruan seiring ramainya aksi korporasi yang dilakukan pada tahun ini.

Praktisi pasar modal Lucky Bayu Purnomo mengatakan volatilitas sektor perbankan ikut didorong oleh rencana transformasi bank digital. Kendati demikian, bank konvensional juga tidak kalah seksi dengan raihan kinerja kokoh pada tahun ini.

“Saya melihat kinerja sektor perbankan memiliki parameter, yakni volatilitas karena adanya proses transformasi dari konvensional ke digital.  Sektor ini menghidupkan gairah pelaku pasar. Pergeseran budaya industri, inilah alasan mengapa banking menjadi pilihan,” ucap Lucky dalam diskusi virtual di Instagram Live @OmfinnChannel, Senin, 30 Agustus 2021.

Dinamika pergerakan harga sama perbankan memang menarik untuk ditelusuri. Dalam hal pergerakan harga saham, bank digital lebih atraktif dibandingkan dengan bank konvensional.

Dengan mengukurnya dalam periode tahun berjalan (year to date), saham bank yang sudah mendeklarasikan sebagai bank digital tumbuh lebih pesat. Harga saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) tercatat sudah menguat lebih dari tiga kali lipat, yakni 341,0% periode Januari-Agustus 2021.

Pada periode yang sama, PT Bank BRI Agroniaga Tbk (AGRO) juga alami penguatan yang signifikan dalam urusan pergerakan harga saham. Saham anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) ini terbang 129% ytd.

Meski emiten bank tersebut digadang-gadang jadi penguasa bank digital, namun pergerakan harga saham paling liar justru dicatatkan oleh PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP), yakni hingga 800% ytd. Lalu, ada PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) yang nilai sahamnya menguat 465,4% ytd.

Hanya ada PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) yang tidak mampu mencapai penguatan harga saham triple digit. Saham BACA tercatat bergerak lambat, yakni 23,% ytd.

Lucky menilai bank dengan kapitalisasi pasar kecil-menengah ini lebih ‘seksi’ karena punya keleluasaan dalam melakukan aksi korporasi. Kendati demikian, dirinya juga menyebut bank dengan kapitalisasi pasar besar juga tidak kalah atraktif mewarnai bursa Indonesia tahun ini.

“Bukan hanya bank kapitalisasi pasar kecil dan menengah, tapi bank kapitalisasi besar menjadi penantian oleh pasar. Secara postur usaha, bank dengan kapitalisasi pasar kecil lebih mudah untuk bertransformasi, misalnya dalam hal pengendalian non performing loan (NPL),” jelas Lucky.

Di sisi lain, bank yang masih menyatakan sebagai bank konvensional mengalami tekanan harga saham. Tekanan yang tinggi dialami PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang nilainya ambles 32,4% ytd.

Lalu, tengok saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) yang terkorelasi 27,7% ytd. Tidak jauh berbeda, saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) juga alami pelemahan 17,7% ytd.  

Untuk bank konvensional, PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) yang sahamnya melejit hingga 216,3% ytd. Lucky menilai prospek bank digital lebih diminati dalam jangka dekat karena potensi inovasi berbasis teknologinya sedang menjadi sorotan di bursa.

Bank Konvensional Kokoh di Kinerja  

Suasana kantor pusat Menara BTN, Gajahmada, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Boleh saja saham bank digital lebih mentereng di bursa, namun untuk urusan kinerja, bank konvensional masih lebih kokoh. Hal ini tercermin dari pertumbuhan laba bersih bank konvensional yang tergolong dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) lebih unggul ketimbang bank digital.

BTN mencatat kenaikan laba bersih sebesar 19,86% year on year (yoy) pada semester I-2021. Sepanjang enam bulan pertama 2021, laba BTN naik dari Rp767,57 miliar menjadi Rp920,06 miliar.

Tidak kalah, Bank Danamon juga berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih hingga dobel digit. Laba bersih emiten bersandi BDMN ini naik 18% yoy dari Rp845 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp988 miliar pada semester I-2021.

Bank Permata jadi emiten paling mentereng dengan pertumbuhan laba bersih hingga 74,30%. Laba bersih Bank Permata melonjak dari Rp366,48 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp638,78 miliar pada semester I-2021.

Sayangnya, bank yang terafiliasi dengan grup Sampoerna, PT Bank Sahabat Sampoerna justru mengalami penyusutan laba bersih sebesar 38,74% yoy pada semester I-2021. Laba bersih Bank Sampoerna merosot dari Rp30,2 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp18,5 miliar pada semester I-2021.

Hanya ada Bank Maspion yang masih belum melaporkan kinerjanya pada paruh pertama tahun ini. Dengan demikian, meski ada yang mengalami penurunan, bank konvensional masih bisa mencetak laba bersih pada semester I-2021.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kinerja bank digital yang rupanya rerata harus menelan kerugian. Beban operasional yang terlampau tinggi dalam proses transformasi digital menjadi biang kerok kerugian bank digital.

Bank Jago milik Jerry Ng misalnya, harus merugi Rp47 miliar pada semester I-2021. Hal ini disebabkan mahalnya ‘ongkos’ beban operasional yang melejit 135% menjadi Rp183 miliar pada semester I-2021.

Tidak jauh berbeda, kondisi ini juga dialami oleh Bank Neo Commerce. Rencana menjadi bank digital membuat Bank Neo Commerce berbalik rugi Rp132,85 miliar pada semester I-2021. Padahal, BBYB masih sanggup membukukan laba bersih Rp19,32 miliar pada semester I-2020.

Sama seperti Bank Jago, Bank Neo Commerce juga mengalami tumbukan pada pos beban operasional. Total beban operasional BBYB melesat 253% yoy dari Rp100,27 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp277,020 miliar pada semester I-2021.

Lain halnya dengan Bank Capital yang masih mampu menjaga lonjakan beban operasional. Beban operasional di emiten bersandi BACA ini hanya merangkak 31% menjadi Rp241,39 miliar dari sebelumnya Rp184,30 miliar. Walhasil, BACA masih bisa meraup laba bersih Rp11,60 miliar.

Meski begitu, kinerja BACA masih tergolong negatif. Pasalnya, raihan laba pada semester I-2021 itu lebih rendah 77,68% dibandingkan dengan semester I-2020 yang mencapai Rp51,98 miliar.

Rontoknya laba bersih juga dialami MNC Bank. Emiten milik konglomerat Hary Tanoesoedibjo itu mengalami penurunan laba bersih 6,7% yoy dari Rp5,13 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp4,78 miliar pada semester I-2021.

Hanya ada BRI Agro yang membukukan kinerja stabil pada semester I-2021 ini. Laba bersih calon bank digital ini terbang dari Rp20,04 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp26,22 miliar pada semester I-2021.

Kredit Bank Digital Terbang, Bank Konvensional Tetap Kokoh

Mitra Driver Gojek menunggu customer di dekat logo Bank Jago di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

Kendati secara nilai masih mini, bank digital menunjukan arah cerah dalam hal intermediasi. Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan kepercayaan masyarakat soal bank digital semakin meningkat.

Imbasnya, masyarakat kini lebih berani mengakses pembiayaan dari bank digital. Secara langsung, kinerja penyaluran kredit bank digital melambung pada paruh pertama tahun ini.

Misalnya saja Bank Jago yang mengalami peningkatan penyaluran kredit hingga 696% yoy menjadi Rp2,17 triliun. “Bank digital secara kelembagaan itu menguntungkan karena lebih mudah mendapat kepercayaan dari masyarakat, ini bisa menjadi alternatif selain peer-to-peer (P2P) lending yang bunganya lebih tinggi,” ujar Bhima kepada TrenAsia.com, Senin, 30 Agustus 2021.

Meski tidak seagresif ARTO, sejumlah bank digital juga turut mengalami peningkatan penyaluran kredit. MNC Bank tercatat menyalurkan kredit sebesar Rp7,69 triliun atau naik 8,10% dibandingkan dengan posisi akhir 2020 yang sebesar Rp7,12 triliun.

Namun, Bhima menggarisbawahi bank digital ini hanya kuat pada segmen konsumer. Hal ini tampak pada postur penyaluran kredit Bank Neo Commerce di mana 60% kredit berasal dari segmen rumah tangga.

Secara akumulatif, BBYB mencatatkan realisasi penyaluran kredit sebesar Rp3,82 triliun atau naik dibandingkan dengan akhir 2020 yang hanya Rp3,66 triliun.

“Bank digital ini mainnya di segmen konsumer, prospeknya bisa ditingkatkan ke kredit produktif. Namun untuk menembus kredit dengan nilai besar masih sulit,” jelas Bhima.

Dengan kata lain, segmen wholesale banking masih digenggam oleh bank konvensional. Misalnya saja kinerja segmen wholesale banking Bank Permata yang tumbuh 39,8% yoy.

Segmen tersebut nyatanya menjadi pemantik utama keseluruhan kredit di emiten berkode BNLI tersebut. BNLI secara keseluruhan menyalurkan dana Rp120,8 triliun pada semester I-2021 atau naik 16,6% yoy.

Serupa, segmen enterprise banking yang terdiri dari korporasi dan komersial menopang kinerja kredit Bank Danamon pada paruh pertama tahun ini. Segmen itu berhasil tumbuh 11% yoy sehingga membuat penyaluran kredit Bank Danamon kokoh di level Rp134,4 triliun pada semester I-2021.

Sementara itu, Penyaluran kredit Bank Sampoerna hanya tumbuh terbatas pada semester I-2021. Total penyaluran kredit perseroan tumbuh 3,4% menjadi Rp8,5 triliun pada paruh pertama tahun ini.

Adapun BTN yang diberi mandat untuk pembiayaan perumahan oleh Kementerian BUMN mengguyur kredit sebesar Rp265,9 triliun pada akhir kuartal II-2021, tumbuh 5,59% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berita Terkait