Adopsi Metaverse Dapat Selamatkan e-Commerce di Tengah Gempuran Tren Belanja via Media Sosial

23 November 2022 07:15 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Ananda Astri Dianka

Ilustrasi metaverse. (artlabs.ai)

JAKARTA – Chief Technology Officer (CTO) PT V2 Indonesia Daniel Hartono memaparkan bahwa e-commerce memiliki potensi untuk mengembangkan masa depannya di ekosistem metaverse tatkala tren belanja via media sosial terus menjamur di masyarakat.

Daniel mengatakan, e-commerce adalah salah satu platform bisnis yang valuasinya mengacu kepada jumlah transaksi yang terjadi di platform.

Namun, saat ini tengah bertumbuh sebuah tren belanja via media sosial yang lebih memberikan nilai dari segi kepraktisan sehingga tidak sedikit audiens yang mulai bergeser dari e-commerce ke media sosial untuk berbelanja online.

“Sekarang ini lawan baru dari e-commerce bukanlah platform e-commerce lain, melainkan media sosial,” ujar Daniel dalam Konferensi Tech for Business 2022 yang diselenggarakan Marketeers di CGV Grand Indonesia, Selasa, 23 November 2022.

Melalui fitur live streaming, saat ini media sosial menawarkan ruang yang lebih praktis bagi perusahaan-perusahaan untuk menjual produk secara langsung kepada para audiens.

Dikatakan oleh Daniel, platform media sosial saat ini memiliki daya tarik yang lebih besar dibanding e-commerce bagi para audiens yang berniat untuk melakukan belanja online.

Pasalnya, platform e-commerce dewasa ini hanya mengusung konten yang sifatnya statis dalam memasarkan produk, yaitu dalam bentuk foto. 

Sementara itu, platform media sosial melalui fitur live streaming-nya memberikan pengalaman yang lebih interaktif kepada audiens dan membuat mereka lebih mudah terpancing untuk melakukan aksi pembelian.

Dengan adanya tren jual-beli di media sosial, bahkan perusahaan-perusahaan besar pun saat ini banyak yang memilih untuk menjajakan langsung produknya di media sosial dan memaksimalkan aksi pemasaran di sana. 

Oleh karena itu, Daniel menilai bahwa saat ini, platform e-commerce perlu melakukan lompatan untuk tetap relevan dengan para calon-calon pembeli di dunia maya.

“Kalau tidak, mereka akan digantikan media sosial sebagai platform baru untuk berjualan,” ujar Daniel.

Salah satu lompatan yang bisa ditempuh oleh platform e-commerce untuk tetap relevan dengan tren digital yang tengah berlangsung saat ini adalah dengan memanfaatkan ekosistem metaverse.

Daniel mengatakan bahwa metaverse sendiri dapat memantik interpretasi yang beragam, namun dia memilih untuk memandangnya sebagai transisi dunia digital dari penyajiannya yang bersifat “datar” menjadi suatu suguhan yang memberikan pengalaman imersif.

Metaverse mentransisikan pengalaman kita dari dunia yang flat menjadi dunia yang imersif,” kata Daniel.

Daniel menuturkan, walaupun saat ini penjualan melalui fitur video adalah suatu hal yang lumrah, namun konten yang ditawarkan masih bersifat dua dimensi.

Lantas, sebagai ekosistem yang akan menawarkan pengalaman tiga dimensi, metaverse pun diproyeksikan Daniel akan menjadi suatu entitas yang mengubah dimensi dunia maya menjadi sesuatu yang lebih bersifat imersif, yakni suatu kondisi ketika batasan antara dunia nyata dan digital saling bercampur.

Daniel menjelaskan, ada tiga tahap dalam pengembangan metaverse. Yang pertama adalah tahap gamification, brand metaverse, dan yang terakhir adalah tahap blockchain.

Menurut Daniel, saat ini metaverse yang tengah berkembang sebenarnya belum memasuki tahap blockchain yang menjadikan ekosistem dunia virtual ini menjadi suatu dimensi yang murni menjadi milik komunitas dan aset kripto akan menjadi mata uang yang lumrah digunakan.

Di tahap brand metaverse inilah momentum yang dinilai Daniel tepat bagi para pelaku e-commerce untuk masuk ke ekosistem dunia virtual untuk memberikan pengalaman yang baru bagi konsumen.

Daniel pun menyampaikan bahwa kehadiran metaverse adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari, dan keberadaannya akan mengubah segala tata cara manusia dalam berkomunikasi.

Perkembangan metaverse juga akan terus berjalan seiring dengan industri game yang kian berkembang menuju ke fase hyper-reality sehingga dunia virtual akan menjadi wilayah yang lumrah untuk dijajal seperti halnya media sosial sekarang ini. 

Berita Terkait