Ada IPO Bukalapak, Penghimpunan Dana di BEI Meroket Tembus Rp139,84 Triliun

10 Agustus 2021 11:48 WIB

Penulis: Sukirno

Editor: Sukirno

Jika dihitung dengan IPO PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) senilai Rp21,9 triliun, maka total penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp139,84 triliun. / Ismail Pohan/TrenAsia (TrenAsia.com)

JAKARTA - Penghimpunan dana di pasar modal lewat penawaran umum pedana saham (initial public offering/IPO) pada tahun ini meroket melampaui perolehan tahun sebelumnya.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan penghimpunan dana melalui pasar modal hingga 3 Agustus 2021 tumbuh sebesar 99,36% secara tahunan (year-on-year/yoy) atau sebesar Rp117,94 triliun dari 27 emiten baru yang melakukan penawaran umum.

"Angka ini belum termasuk realisasi IPO perusahaan start-up yaitu Bukalapak yang baru saja efektif per tanggal 6 Agustus 2021. Capaian ini hampir melampaui perolehan tahun 2020 yang sebesar Rp118,7 triliun dan kami yakin dapat kembali mencapai level sebelum pandemi yakni di akhir tahun 2021," ujar Wimboh dalam acara Peringatan 44 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia di Jakarta, Selasa, 10 Agustus 2021.

Jika dihitung dengan IPO PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) senilai Rp21,9 triliun, maka total penghimpunan dana mencapai Rp139,84 triliun. Nilai tersebut setara 117,8% lebih tinggi dari penghimpunan dana di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2020.

Berdasarkan catatan OJK, masih terdapat 83 penawaran umum dalam proses (pipeline) senilai total Rp52,56 triliun dengan 40 penawaran umum, di antaranya akan dilakukan melalui mekanisme penawaran umum perdana saham (IPO).

"Antusiasme dan optimisme penghimpunan dana melalui pasar modal yang terjaga ini diharapkan dapat menjadikan pasar modal sebagai motor penggerak pemulihan ekonomi nasional. Hal ini sejalan dengan tema peringatan ulang tahun pasar modal kali ini yaitu sinergi pasar modal bagi pemulihan ekonomi," kata Wimboh.

Menurut Wimboh, pandemi COVID-19 menyebabkan mobilitas masyarakat terbatas sehingga terjadi penurunan konsumsi di masyarakat dan berdampak meningkatnya pendapatan yang dapat dibelanjakan, yang mengendap dalam bentuk simpanan di perbankan. Selain itu kebijakan fiskal dan moneter juga turut meningkatkan likuiditas di pasar.

"Implikasi dari kebijakan dimaksud membuat masyarakat memiliki dana berlebih yang siap untuk diinvestasikan. Masyarakat kemudian mencari alternatif investasi lain yang memberikan return lebih tinggi, salah satunya instrumen pasar modal," ujar Wimboh.

Hingga Juli 2021 investor pasar modal meningkat menjadi 5,82 juta investor atau meroket 93% yoy yang didominasi oleh investor ritel berumur di bawah 30 tahun atau investor milenial. Pertumbuhan investor tersebut mencapai dua kali lipat sejak awal pandemi, hal tersebut mencerminkan tingginya optimisme investor terhadap pasar modal Indonesia.

Wimboh menambahkan industri pasar modal masih dalam kondisi yang stabil pada 2021. IHSG hingga 9 Agustus 2021 tercatat menguat ke level 6.127,46 atau tumbuh 2,48% sejak awal tahun (year-to-date/ytd) dengan aliran dana asing tercatat masuk sebesar Rp18,24 triliun ytd.

Berita Terkait