Ada Aturan DMO untuk CPO, Surplus Perdagangan Februari 2022 Diprediksi Turun

16 Februari 2022 17:04 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

Nampak seorang petani tengah melakukan panen tanaman kelapa sawit di kawasan Bogor Jawa Barat, Kamis 28 Mei 2021. (Foto : Panji Asmoro/TrenAsia)

JAKARTA - Kebijakan domestic market obligation (DMO) dan domestic price obligation (DPO) yang diterapkan pemerintah terhadap crude palm oil (CPO) diprediksi akan berdampak terhadap kinerja perdagangan Indonesia pada Februari 2022.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan dampak kebijakan DMO terhadap kinerja ekspor CPO akan terjadi seperti larangan ekspor batu bara yang diberlakukan pemerintah pada Januari lalu.

Imbas larangan ekspor batu bara, kinerja ekspor batu bara pada Januari 2022 langsung terjun bebas sebesar 61,30% year on year (yoy) dan 59,12% month ton month (mtm).

Nilai ekspor batu bara pun menyusut sebesar US$1,69 miliar setara Rp24,17 triliun (kurs Rp14.300 per dolar AS) sehingga  kontribusinya hanya mencapai 5,59% terhadap total ekspor.

"Kita melihat efek dari DMO CPO ini terhadap kinerja ekspor khususnya pada bulan Februari jadi di antara dilema itu maka berdampak signifikan terhadap surplus perdagangan," katanya ketika dihubungi TrenAsia.com, Rabu, 16 Februari 2022.

Menurut kebijakan DMO yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan, setiap eksportir sawit diwajibkan untuk memasok ke dalam negeri sebanyak 20% untuk menghindari kelangkaan. Sebab, momentum kenaikan harga CPO kerap kali menjadi kesempatan bagi para produsen untuk menjual ke luar negeri dengan harga tinggi.

Seluruh eksportir wajib mengalokasikan produk dengan patokan harga (DPO) Rp9.300 per kilogram untuk CPO dan Rp10.300 per kilogram untuk RBD Palm Olein.

Bhima menjelaskan kebijakan DMO CPO pada prinsipnya memang menimbulkan dilema tersendiri. Pasalnya, pemerintah berada di antara tarik-menarik kepentingan melindungi masyarakat dengan menjaga stabilitas harga dan kebutuhan domestik. Tetapi di sisi lain, tergoda untuk meraup cuan dari lonjakan harga komoditas sawit di pasar global.

Menurut dia, mengulangi kinerja surplus yang ditorehkan selama tahun 2021 pun akan sulit tercapai tahun ini. Untuk bulan Februari, surplus perdagangan pun diprediksi lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pada Februari 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$2,01 miliar. Ekspor tercatat mencapai US$15,27 miliar sedangkan impor mencapai US$13,26 miliar.

Bhima bahkan memprediksi akan terjadi defisit neraca perdagangan pada semester pertama tahun ini jika volume impor terus membesar di tengah kebutuhan pasokan barang-barang konsumsi jelang Ramadhan.

"Jadi kecil kemungkinan mengulang surplus yang terjadi sepanjang 2021," tukasnya.

Pada Januari 2022, BPS mencatat surplus neraca perdagangan mencapai US$930 juta setara Rp13,3 triliun. Dibandingkan dengan Desember 2021, neraca perdagangan Januari 2022 turun 8,82%. Pada Desember, surplus perdagangan mencapai US$1,02 miliar.

Dia menuturkan penurunan surplus neraca perdagangan pada Januari hingga Februari memang sering terjadi karena merupakan efek low season. Hal itu karena volume impor yang menyusut.

Namun, dia memperkirakan volume impor kembali meningkat pada Maret seiring peningkatan kebutuhan masyarakat jelang bulan Ramadhan dan Lebaran.

"Ini artinya surplus perdagangan akan semakin mengecil bahkan tidak menutup kemungkinan akan terjadi defisit perdagangan pada paruh pertama atau semester satu 2022," pungkasnya.

Bhima pun mendorong pemerintah untuk mengevaluasi kembali kebijakan energi dan pangan di tengah melonjaknya kasus COVID-19 varian Omicron global. Terutama ke negara-negara dagang utama, pemerintah perlu mewaspadai turunnya permintaan.

"Karena (negara-negara mitra) akan melakukan penurunan terhadap permintaan produk-produk baik komoditas maupun barang jadi dari Indonesia," katanya.

Pada Januari 2022, nilai ekspor nonmigas untuk semua sektor mengalami penurunan secara bulanan. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai US$380 juta (-5,79%), industri pengolahan US$15,71 miliar (-7,91%), dan pertambangan dan lainnya mencapai US$2,17 miliar (-42,88%).

Selain batu bara, komoditas yang volume ekspornya ikut menyusut antara lain lemak dan minyak hewan/nabati, timah dan barang daripadanya, serta mesin dan perlengkapan elektrik, kayu dan barang dari kayu.

Dengan menurunnya permintaan global, ekspor nonmigas Januari 2022 mencapai US$18,26 miliar, turun 14,12% mtm dibandingkan dengan Desember 2021.

Bhima mewaspadai bahwa di tengah penurunan permintaan global dan peningkatan pasokan barang impor akan memperburuk neraca perdagangan tahun ini.

"Ini yang sangat berpengaruh terhadap kualitas atau volume dari neraca perdagangan di 2022 semester pertama," ungkap Bhima.

Berita Terkait