7 Tahun Menjabat, Utang Era Pemerintahan Jokowi Bengkak 66,69 Persen Tembus Rp2.976 Triliun

17 Maret 2021 04:03 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Negara / Dok. BPMI Setpres

JAKARTA – Selama menjabat, pemerintahan Presiden Joko Widodo alias Jokowi mencatatkan kenaikan utang luar negeri (ULN) pemerintah menjadi US$206,37 miliar atau Rp2.976 triliun (kurs Rp14.424 per dolar Amerika Serikat) pada 2020. Nilai ini naik sebesar 66,69% dari sebelumnya US$123,80 miliar, setara dengan Rp1.786 triliun pada 2014.

Berdasarkan data statistik Bank Indonesia (BI), ULN pemerintah tahun pertama Jokowi senilai US$123,806 miliar pada 2014. Posisi ULN tersebut tumbuh 8,32% dibandingkan dengan penghujung kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2013) sebesar US$114,294 miliar.

Sejak itu, ULN pemerintah terus tumbuh dengan persentase kenaikan yang beragam. Selama tujuh tahun kepemimpinan Jokowi, pertumbuhan ULN tertinggi terjadi pada 2017 di mana ULN bengkak sebesar 14,49% menjadi US$177,318 miliar.

Menariknya, ULN pemerintah di masa pandemi COVID-19 tahun lalu justru tercatat sebagai pertumbuhan terkecil yakni hanya 3,25%. Pada kala itu, ULN melebar jadi US$206,375 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya US$199,876 miliar.

ULN Januari 2021
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Terbaru, BI mencatat posisi ULN per Januari 2021 tembus US$420,7 miliar setara Rp6.068 triliun.

Nilai utang tersebut tumbuh 2,6% dari bulan sebelumnya. Namun pertumbuhan ULN melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang naik 3,4% year on year (yoy).

Posisi ULN Januari terdiri dari sektor publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar US$213,6 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar US$207,1 miliar.

Hingga akhir Januari 2021, ULN pemerintah masih didominasi oleh utang jangka panjang  atau lebih dari 1 tahun. Tepatnya, ULN jangka panjang pemerintah mencapai US$210,63 miliar, sedangkan ULN jangka pendek US$131 juta.

Kendati nilai ULN pemerintah terus membengkak tiap tahunnya, namun rasio ULN secara keseluruhan (termasuk utang bank sentral dan swasta) terhadap produk domestik bruto (PDB) masih terjaga di level 39,5% per Januari 2021.

Artinya, cukup jauh dari ambang batas maksimal rasio utang sebesar 60% dari PDB yang tertuang dalam Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. (SKO)

Pertumbuhan ULN 2014-2020

2013: US$114,294 miliar

2014: US$123,806 miliar (+ 8,32% yoy)

2015: US$137,396 miliar (+ 10,97% yoy)

2016: US$154,875 miliar (+ 12,72% yoy)

2017: US$177,318 miliar (+ 14,49% yoy)

2018: US$183,197 miliar (+ 3,31% yoy)

2019: US$199,876 miliar (+ 9,10% yoy)

2020: US$206,375 miliar (+ 3,25% yoy)

Berita Terkait