7 Kali Kebakaran di Kilang Cilacap, Erick Thohir Minta Pertamina Evaluasi Total

16 November 2021 15:03 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

Kilang minyak PT Pertamina (Persero) di Cilacap, Jawa Tengah. (Twitter/@enamkosongsatu)

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta PT Pertamina (Persero) melakukan evaluasi secara komprehensif terkait manajemen risiko bencana setelah insiden kebakaran kilang Pertalite milik PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Cilacap, Jawa Tengah.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan evaluasi dilakukan agar insinden serupa tidak lagi terjadi di kemudian hari.

"Evaluasinya harus total, semuanya, supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Kita berharap antisipasi ke depan jangan ada kejadian seperti ini," ujarnya dalam keterangan yang diperoleh TrenAsia.com, Selasa, 16 November 2021.

Dia menyebut peristiwa kebakaran kilang di Cilacap pada akhir pekan lalu menjadi materi penting bagi perusahaan untuk melakukan investigasi dan kajian risiko bencana ke depannya. Apalagi, kinerja produsen minyak dan gas nasional tersebut sedang bagus-bagusnya saat ini.

Pada semester I-2021, Pertamina berhasil mencetak kinerja yang sangat positif setelah tahun lalu mengalami kerugian US$767,91 juta setara Rp10,89 triliun (asumsi kurs Rp14.180 per dolar Amerika Serikat). Laba perusahaan pada semester pertama tahun ini mencapai Rp2,6 triliun dan diperkirakan akan terus membaik.

Menurut Arya, yang kini mengampu program "Senggol Dong" di YouTube Kementerian BUMN, Pertamina semestinya mendalami kasus-kasus yang terjadi di Kilang Cilacap karena sudah tujuh kali terjadi kebakaran.

"Ini kan sudah beberapa kali, kami sudah minta Pertamina mengevaluasi khususnya yang ada di Cilacap kenapa sampai bisa terjadinya seperti itu. Kita minta evaluasi menyeluruh, dan kenapa sampai berulang," pungkas Arya.

Sebelumnya, insiden kebakaran di Kilang Cilacap terjadi Sabtu, 13 November 2021 sekitar pukul 19.20 WIB. Tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden tersebut.

Api berhasil dipadamkan oleh petugas pada Minggu pagi, tetapi semburan abu dan api yang bersumber dari kilang telah mengotori air dan rumah warga hingga radius 5 kilometer dari lokasi kejadian.

Penyebab kebakaran masih dalam tahap investigasi baik oleh internal perusahaan maupun oleh otoritas kebencanaan.

Menurut analisis Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), faktor penyebab kebakaran Kilang Pertamina di Cilacap diduga karena sambaran petir.

Menurut BMKG, sambaran petir tersebut terjadi dua kali, yaitu pada pukul 18:47:27 WIB dan jam 19:23:32 WIB pada hari itu.

"Berdasarkan analisis data dari alat monitoring kelistrikan udara BMKG di Stasiun Geofisika Banjarnegara, pada 13 November 2021 pukul 18.00 sampai 19.30 WIB terdeteksi dua event sambaran petir," bunyi rilis BMKG Minggu, 14 November 2021.

BMKG menyebut peristiwa sambaran petir terdekat dengan kilang minyak Refinery Unit (RU) IV Cilacap adalah untuk kejadian sambaran pada 18:47:27 WIB, pada koordinat 7.67942574 LS, 109.1110952 BT, dengan jarak kurang lebih 12 kilometer sebelah timur laut kilang minyak Cilacap.

Sementara untuk peristiwa sambaran petir pukul 19:23:32 WIB berlokasi di kecamatan Sidareja, dengan jarak kurang lebih 43 kilometer barat laut dari Kilang Cilacap.

Penyidik Polda Jawa Tengah juga memperkirakan kebakaran tangki kilang minyak Pertamina itu akibat sambaran petir. Dugaan ini diperkuat sejumlah rekaman CCTV di sekitar lokasi dan keterangan sejumlah saksi.

Namun, anggota Komisi VI DPR Herman Chaeron menduga bahwa dengan hilangnya ribuan kiloliter minyak di sentra produksi minyak terbesar nasional ini, perusahaan bisa mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dari luar negeri yang lebih murah.

Dia pun meminta pihak Pertamina harus benar-benar bertanggung jawab terhadap insiden yang terjadi secara beruntun dalam waktu setahun ini. Belajar dari kebakaran di Kilang Balongan, Indramayu, Herman menyebut bahwa ada faktor lain selain alam.

"Ini menjadi peringatan dan harus ada pertanggunjawaban dan betul-betul dilakukan investigasi supaya ke depan tidak terjadi lagi," kata Herman dalam sebuah wawancara di stasiun televisi swasta TV One, Minggu malam.

Berita Terkait