5 Cara Hemat Listrik di Apartemen saat Pandemi

January 20, 2021, 07:16 PM UTC

Penulis: Laila Ramdhini

Petugas PLN Area Bulungan Distribusi Jakarta Raya melakukan penyambungan penambahan daya pelanggan 1300 VA menjadi 2200 VA di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Banyak masyarakat mengeluhkan tagihan listrik membengkak selama masa pandemi COVID-19. Hal itu wajar, sebab selama pandemi aktivitas lebih banyak dilakukan di tempat tinggal, baik di rumah maupun apartemen. Mulai dari aktivitas sekolah, bekerja, dan lainnya.

Direktur Opersional Inner City Management (ICM) Krisdiarto Adi Pranoto mengatakan agar tagihan listrik tidak terlalu membengkak, masyarakat harus lebih jeli dalam mengatur pemakaian perangkat elektronik.

Mengatur pengeluaran ini menjadi sangat penting mengingat perekonomian tengah mengalami penurunan yang berdampak pada pendapatan masyarakat.

“Berkurangnya pendapatan menjadi alasan utama mengapa penting bagi kita untuk menekan pengeluaran, salah satunya dengan menghemat penggunaan listrik,” kata Krisdiarto dalam keterangan kepada TrenAsia.com, Rabu, 20 Januari 2021.

ICM, sebagai perusahaan konsultan property management yang saat ini mengelola sekitar 46 site apartemen dan gedung di Jakarta serta kota-kota lain di Indonesia, membagikan cara hemat listrik bagi para penghuni apartemen.

SOP Manager ICM Hidayat mengatakan sebenarnya banyak cara bagi masyakakat, terutama penghuni apartemen dalam melakukan penghematan listrik. Mulai dari mengganti lampu yang lebih hemat energi hingga mengurangi penggunaan perangkat elektronik berdaya listrik besar.

“Kuncinya adalah mengatur pemakaian listrik dengan bijak. Selain menghemat pengeluaran, hal ini juga bermanfaat baik pada lingkungan,” kata Hidayat.

Berikut ini tips yang dapat dilakukan penghuni apartemen untuk menghemat penggunaan listrik.

1. Manfaatkan cahaya alami
Jangan biarkan lampu menyala seharian. Penghuni dapat mengganti cahaya lampu dengan cahaya alami dari sinar matahari yang masuk dari jendela apartemen maupun rumahnya. Pemanfaatan cahaya matahari dapat dilakukan hingga sore hari dalam membantu penghuni beraktivitas.

2. Gunakan lampu hemat energi
Untuk pencahayaan di malam hari, penghuni dapat menggunakan lampu LED yang mengonsumsi daya lebih kecil. Meskipun harganya relatif lebih mahal, namun lampu LED jauh lebih hemat energi. Selain itu, cahaya dari lampu LED juga lebih terang ketimbang lampu pijar biasa.

3. Cabut setop kontak yang tidak digunakan
Kebiasaan membiarkan steker yang sudah tidak digunakan tetap menancap di setop kontak adalah hal yang salah. Sekarang, biasakan untuk selalu mencabut steker dari setop kontak apabila sedang tidak dipakai. Hal ini juga sebagai cara untuk menghindari kerusakan pada perangkat elektronik yang kita miliki.

4. Kurangi penggunaan perangkat elektronik berdaya tinggi
Air conditioner (AC), kulkas, dispenser, microwave, rice cooker dan sebagainya memang dibutuhkan keberadaannya khususnya di unit apartemen. Namun, yang perlu penghuni perhatikan adalah memilih perangkat elektronik yang berdaya rendah untuk menghindari beban tarif listrik yang terlalu tinggi nantinya.

Selain itu, selalu cek fungsi juga performa dari alat elektronik yang dimiliki. Contohnya, AC yang tidak terawat semakin lama akan semakin menyedot listrik lebih lama. Sehingga pemilik harus lebih memerhatikan fungsi dari alat tersebut apakah performanya masih baik atau harus waktunya di-service.

5. Manfaatkan ventilasi udara
Mematikan AC juga dapat menghemat listrik dan mengurangi dampak terjadinya pemanasan global. Solusinya, para penghuni bisa memanfaatkan sirkulasi udara yang alami dari ventilasi atau juga bisa membuka jendela balkon untuk membiarkan udara masuk ke ruangan. Tidak hanya itu, menggunakan kipas angin juga dapat menghemat listrik karena daya yang dibutuhkan sangatlah rendah jika dibandingkan dengan AC.

Hidayat juga mengingatkan agar masyarakat lebih memerhatikan kabel-kabel tidak terpakai seperti televisi, charger ponsel, atau komputer untuk dicabut. Selain membuat listrik mengalir percuma, hal ini juga berbahaya karena memicu korsleting listrik.

“Banyak cara yang dapat dilakukan, mulailah dari yang sederhana terlebih dahulu seperti mencabut perangkat yang tidak dipakai,” kata Hidayat. (SKO)

Berita Terkait