5 Bulan Berturut-turut, Neraca Perdagangan RI Kembali Surplus US$2,44 Miliar

15 Oktober 2020 13:36 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Pekerja tengah menyelesaikan pembuatan furniture di PT Funisia Perkasa, Juru Mudi Baru Kecamatan Benda, Kota Tangerang, Banten, Selasa 13 Oktober 2020. Dimasa pandemi walaupun pasar lokal sedikit berkurang namun pemintaan dari pasar ekspor cukup tinggi walaupun terkendala dalam proses pengiriman. Pengusaha berharap agar pemerintah bisa tetap mendukung dan memperhatikan sektor industri ini khususnya dalam hal ekspor produk. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada September 2020 kembali mencetak surplus senilai US$2,44 miliar. Perolehan ini membaik dibanding surplus Agustus 2020 sebesar US$2,33 miliar.

Surplus September tahun ini juga membesar dibandingkan dengan posisi September 2019 yang justru defisit US$183,3 juta.

“Kita patut bersyukur pada bulan September kita mengalami surplus US$2,44 miliar. Selama 5 bulan berturut-turut sejak bulan Mei,” kata Kepala BPS, Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Kamis, 15 Oktober 2020.

Berlanjutnya tren surplus ini disumbang oleh kinerja ekspor yang lebih tinggi daripada impor yakni US$14,01. Sementara nilai impor pada September 2020 tercatat sebesar US$11,57 miliar.

Kecuk, panggilan akrab Suhariyanto menjelaskan kinerja ekspor September 2020 mencapai US$14,01 miliar, naik 6,97% dibandingkan Agustus 2020. Pertumbuhan ekspor disumbang oleh kenaikan ekspor migas 17,43% dan nonmigas 6,47%.

Meski secara bulanan tercatat membaik, namun posisi ekspor September 2020 masih di bawah perolehan pada periode yang sama tahun lalu, tepatnya turun tipis 0,51%.

“Turunnya tipis sekali, sehingga posisi ekspor September 2020 hampir sama dengan September 2019,” tambah dia.

Sementara, impor pada September 2020 mencapai US$11,57 miliar, naik 7,71% dibandingkan Agustus 2020. Alasannya, impor nonmigas dan migas kompak mengalami kenaikan dengan masing-masing tumbuh sebesar 23,5% dan 6,18%.

“Akan tetapi, secara tahunan, impor tercatat turun 18,88%, karena impor migas dan nonmigas semua turun.”

Berita Terkait