5 Aset Kripto Ini Diprediksi Bearish Memasuki Awal Mei 2022

28 April 2022 03:00 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Rizky C. Septania

Ilustrasi pasar kripto bearish / Pixabay

JAKARTA - Di tengah kondisi pasar kripto yang masih dipenuhi gejolak fluktuasi harga yang tidak menentu, ada beberapa aset yang diprediksi akan memasuki tren bearish saat memasuki awal bulan Mei.

Bearish adalah suatu keadaan di mana harga pasar saham bergerak turun atau melemah secara terus menerus dalam periode waktu tertentu.

Meski harga aset-aset kripto sempat melonjak setelah Elon Musk diumumkan mengakuisisi Twitter, namun tren bullish tidak berlangsung lama.

Berdasarkan pantauan Coin Market Cap, Rabu, 27 April 2022 pukul 15.40 WIB, Bitcoin (BTC) mengalami penurunan 3,92% dalam 24 jam terakhir dan saat ini berada di level US$38.933 atau setara dengan Rp561,5 juta dalam asumsi kurs Rp14.418 per dolar Amerika Serikat (AS).

Selain Bitcoin, aset-aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar (big cap) lainnya pun mengalami penurunan, termasuk Dogecoin (DOGE) yang sempat meroket hingga 25% karena sentimen positif dari pengumuman terkait akusisi Twitter.

Menurut trader Tokocrypto Afid Sugiono, saat ini pelaku pasar masih tampak ragu-ragu untuk mengalokasikan dana di instrumen investasi berisiko seperti kripto.

“Sikap investor masih jenuh melakukan aksi jual-beli untuk mengakumulasi investasi aset kripto mereka. Hal tersebut dampak dari bagian aksi risk-off seiring maraknya sentimen negatif di exchange kripto. Selain itu, pelaku pasar juga ingin jaga jarak dengan gejolak di pasar kripto menjelang rapat The Fed bulan depan,” ujar Afid sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 27 April 2022.

Kabar mengenai The Fed yang memberikan sinyal untuk mengerek suku bunga hingga 50 basis poin pada bulan Mei dinilai Afid menjadi salah satu penyebab yang membuat pasar kripto tampak lesu.

Sementara itu, konflik Rusia-Ukraina pun memasuki babak baru setelah Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia menyatakan akan berkonfrontasi dengan North Atlantic Treaty Organization (NATO) jika AS dan sekutunya terus menyokong persenjataan untuk Ukraina.

Afid menilai, kabar terkait konflik Rusia dan Ukraina itu mengindikasikan bahwa ekonomi dunia akan memasuki fase ketidakpastian sehingga investor menarik diri dari pasar aset spekulatif seperti halnya kripto.

Kemudian, banyak juga trader yang mulai menerapkan strategi jangka pendek dan memilih untuk melakukan short trading ketimbang menahannya dalam jangka lama.

Di tengah kondisi pasar kripto yang masih dipenuhi ketidakpastian, berikut ini lima aset kripto yang diprediksi Afid akan mengalami bearish memasuki awal bulan Mei 2022.

1. The Graph (GRT)

Graph Blockchain adalah proyek yang menawarkan cara untuk mengeksplorasi data kompleks di jaringan blockchain dengan cepat.

GRT, token asli dari Graph Blockchain, diprediksi Afid akan memasuki fase bearish jika ditinjau dari kacamata analisis teknikal.

“Dari analisis teknikalnya, GRT sudah menunjukan pola penurunan. Dalam beberapa hari mendatang kemungkinan akan terus merosot dari dari harga US$0,37 (Rp5.334) menuju US$0,33 (Rp4.757) atau turun 11%,” kata Afid.

Saat ini, GRT berada di peringkat ke-58 dengan kapitalisasi pasar US$1,65 miliar (Rp23,8 triliun) dan berada di level US$0,3495 (Rp5.039).

2. TomoChain (TOMO)

TomoChain adalah proyek yang dirancang untuk menyokong peningkatan skalabilitas jaringan Ethereum dilihat dari kapasitas transaksi perdetik (TPS).

“Analisis teknikal terlihat TOMO kemungkinan besar akan terus turun nilainya dari batas harga bawahnya saat ini US$1,15 (Rp16.580) menuju US$1,03 (Rp14.850) atau anjlok 11% meskipun nanti akan dari koreksi ke harga batas bawah tersebut," papar Afid.

TOMO saat ini berada di peringkat ke-342 dengan kapitalisasi pasar US$111,75 juta (Rp1,61 miliar) dan berada di level US$1,24 (Rp17.878).

3. Kyber Network Crystal v2 (KNC)

Setelah mengalami reli bullish pada minggu lalu, KNC diprediksi oleh Afid akan tekoreksi dengan penurunan nilai yang cukup signifikan karena sudah mengalami overbought.

“Pelaku pasar tampaknya sudah jenuh dengan KNC. Analisis teknikal KNC menunjukan nilai KNC bisa turun dari harga batas bawahnya US$5,1 (Rp73.531) ke US$4,75 (Rp68.485) atau turun 12%,” ungkap Afid.

KNC saat ini berada di peringkat ke-82 dengan kapitalisasi pasar US$979,46 juta (Rp14,1 triliun) dan menempati harga US$5,51 (Rp79.443).

4. Klaytn (KLAY)

Klaytn adalah blockchain yang berfokus pada metaverse, game finance (GameFi), dan ekonomi kreatif, dan KLAY adalah aset kripto yang digunakan di dalam jaringannya.

Menurut Afid, kenaikan biaya gas fee untuk perbaikan jaringan terhitung terlalu tinggi sehingga dapat menjadi sentimen negatif bagi KLAY. .

“Harganya KLAY bisa terus turun dari batas bawah saat ini ada di US$0,86 (Rp12.399) ke US$0,84 (Rp12.111) atau turun 8%. Secara keseluruhan memang KLAY sedang dalam fase bearish dalam beberapa waktu belakangan ini,” kata Afid.

KLAY saat ini berada di peringkat ke-46 dengan kapitalisasi pasar US$2,36 miliar (Rp34,02 triliun) dan berada di level US$0,8476 (Rp12.220).

5. Uniswap (UNI)

Laporan dua perusahaan di AS yang menuding Uniswap telah melanggar undang-undang sekuritas dan memfasilitasi penarikan rug pull dapat menjadi sentimen negatif yang mendorong UNI ke tren bearish.

Sebagai informasi, rug pull adalah bentuk penipuan di sektor kripto yang mana pihak pengembang meninggalkan proyek cryptocurrency yang mereka buat setelah sebelumnya menghimpun dana dari masyarakat.

“Analisis teknikal melihat harga UNI bisa terjun dari batas bawahnya di US$8,24 (Rp118.804) ke US$7,5 (Rp108.135) atau turun 13%," kata Afid.

UNI saat ini berada di peringkat ke-26 dengan kapitalisasi pasar US$5,73 miliar (Rp82,6 triliun) dan berada di level harga US$8,3 (Rp119.669). 

Berita Terkait