5 Alasan RMBA Hengkang dari BEI, Rokok Bentoel Rugi Terus dan Tak Pernah Bagi Dividen 10 Tahun

20 Agustus 2021 14:24 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Rizky C. Septania

Kantor pusat rokok Bentoel / Istimewa (Istimewa)

JAKARTA – Emiten rokok PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) berencana berubah menjadi perusahaan tertutup atau go private. Jika disetujui seluruh pemegang saham, ini berarti RMBA tidak lagi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sekretaris Perusahaan RMBA Dinar Shinta Ulie mengungkapkan hanya ada sekitar 2.385 pemegang saham publik RMBA hingga saat ini. Porsi kepemilikan sahamnya pun kecil, yaitu 7,52%. Itu pun 7,29% dimiliki satu pihak, UBS AG London, dan 0,23% dipegang oleh publik lainnya.

“Saham perseroan tersebut tidak secara aktif diperdagangkan dan relatif tidak likuid. Oleh karena itu, perseroan mengajukan rencana go private,” ujar Dinar dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat, 20 Agustus 2021.

Menurut Dinar, ada lima alasan besar di balik rencana RMBA go private ini. Pertama, RMBA tidak ada melakukan penggalangan dana daru pasar modal sejak rights issue pada 2016 dan juga tidak berencana melakukannya di masa depan.

Kedua, kinerja keuangan RMBA yang kebanyakan merugi hingga berpengaruh pada kinerja harga saham. Ketiga, kinerja yang terus merugi itu pun membuat RMBA tidak pernah membagikan dividen sejak tahun buku 2010.

Sebagai informasi, RMBA hanya berhasil mencetak laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sekali pada 2019 dalam lima tahun terakhir (2016-2020). Pada tahun tersebut pun, Bentoel “hanya” mencatatkan laba sebesar Rp50,61 miliar.

Keempat, saham RMBA tidak aktif diperdagangkan di BEI. Kelima, karena saham yang tidak likuid tersebut, pemegang saham sulit menjual saham mereka di BEI.

“Dengan rencana go private, pemegang saham akan memiliki kesempatan untuk menjual kepemilikan saham mereka dengan harga premium terhadap harga pasar,” tambah Dinar.

Untuk memuluskan rencana go private ini, RMBA perlu mendapat persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). RUPSLB tersebut akan diadakan pada 28 September 2021.

Sejak 2009, mayoritas saham RMBA dimiliki oleh perusahaan tembakau asal Inggris, British American Tobacco (BAT). Saat ini, BAT tercatat memiliki 92,48% saham RMBA atau 33, 66 miliar lembar saham.

Sebagai perusahaan tembakau global, BAT juga telah beroperasi di lebih dari 180 negara. Akuisisi BAT ini pun membuat RMBA juga menjual rokok bermerek dagang global seperti Dunhill dan Lucky Strike.

Pada tahun lalu, RMBA mengakui mendapat tekanan eksternal berupa kenaikan tarif cukai dan harga jual eceran yang tertinggi dalam sejarah di Indonesia. Tekanan tersebut pun diperparah dengan adanya pandemi COVID-19.

Berita Terkait