4 Perusahaan Konstruksi Pelat Merah Pemilik Aset Terbesar Saat Ini

16 November 2022 14:38 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Ananda Astri Dianka

Perkerja mengerjakan proyek pembangunan gedung bertingkat di kawasan, Cipinang, Jakarta Timur, Selasa, 22 Juni 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia.

JAKARTA – Empat emiten konstruksi milik negara yang tergabung dalam BUMN Karya yakni PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) telah menyetorkan laporan keuangan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2022.

Mengutip laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu 16 November 2022, total aset keempat perusahaan pelat merah mencapai Rp269,90 triliun. Total aset tersebut tumbuh tipis 0,53% dari sebelumnya Rp268,45 triliun pada akhir Desember 2021.

Berikut daftar peringkat 4 BUMN konstruksi dengan aset terbesar berdasarkan riset TrenAsia.com terhadap laporan keuangan konsolidasian untuk periode Januari hingga September 2022.

1. Waskita Karya (-3,57%)

<p>Gedung Waskita Heritage dikawasan MT Haryono, Jakarta Selatan. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>
 

Waskita Karya mengukuhkan diri sebagai BUMN Karya dengan nilai aset terbesar hingga akhir September 2022. Tercatat, aset WSKT terbilang Rp99,90 triliun. Sayangnya, aset tersebut turun 3,57% dari posisi akhir tahun lalu Rp103,60 triliun.

Melihat kinerja keuangannya, Waskita Karya membukukan laba bersih hingga kuartal III-2022 sebesar Rp578 miliar. Angka itu melonjak 766% dari sebelumnya Rp66 miliar.

Pendapatan perusahaan juga kompak melejit ke angka Rp10,30 triliun dari sebelumnya Rp7,12 triliun atau tumbuh 44,60%. Sementara pada sisi beban pokok pendapatan tercatat mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp6,35 triliun menjadi Rp9,31 triliun. 

Lalu, pada sisi ekuitas WSKT terjadi pertumbuhan dari sebelumnya Rp15 triliun menjadi Rp17 triliun. Sementara liabilitas perusahaan yang menyusut dari Rp88 triliun ke Rp82 triliun.

2. Wijaya Karya (6,91%)

<p>Gedung PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) / Wika.co.id </p>
 

Di posisi kedua, Wijaya Karya berhasil mengantongi aset senilai Rp74,18 triliun hingga kuartal III-2022. Aset WIKA terekam naik sebesar 6,91% dari posisi akhir Desember 2021 Rp69,38 triliun.

Bersamaan dengan itu, WIKA mencetak rugi bersih sebesar Rp27,96 miliar per kuartal III-2022. Padahal, di September 2021 WIKA masih membukukan laba bersih Rp104,93 miliar.

Padahal, perseroan membukukan penjualan sebesar Rp12,79 triliun hingga September 2022. Realisasi itu tumbuh 9,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp11,64 triliun.

3. PTPP (4,60%)

<p>Gedung BUMN Karya, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) / Dok. PTPP</p>
 

Masuk ke juara tiga, PTPP membukukan jumlah aset senilai Rp58,13 triliun hingga kuartal III-2022. Aset PTPP naik 4,60% dari perolehan akhir tahun kemarin sejumlah Rp55,57 triliun.

Tak hanya itu, PTPP juga mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp141,02 miliar hingga kuartal III-2022. Laba PTPP naik 8,96% dari Rp129,41 miliar pada periode sama tahun lalu.

Pertumbuhan kinerja keuangan tersebut turut ditopang kenaikan pendapatan PTPP sebanyak 20% menjadi Rp13,45 triliun per 30 September 2022 dari Rp11,21 triliun pada periode sama tahun lalu. 

4. Adhi Karya (-5,56%)

Direktur Utama Adhi Karya Entus Asnawi Mukhson bersama jajaran direksi ADCP usai pelaksanaan Pencatatan Saham Perdana (IPO) Perseroan di Jakarta, Rabu 23 Februari 2022. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

Terakhir, Adhi Karya mencatatkan nilai aset sebesar Rp37,68 triliun hingga kuartal III-2022 alias turun 5,56% dari periode Desember 2021 sebesar Rp39,90 triliun.

Meski demikian, Adhi Karya membukukan pendapatan sebesar Rp9,13 triliun hingga September 2022. Meningkat 24% dibandingkan pendapatan September 2021 sebesar Rp7,35 triliun. 

ADHI juga mencetak laba bersih sebesar Rp71,99 miliar atau terbang  setinggi 212,86% dari laba bersih September 2021 yakni Rp23,01 miliar.

Peningkatan bottom line ADHI pada September 2022 selain dikontribusikan dari peningkatan pendapatan juga disebabkan adanya efisiensi pada beban usaha. Hal tersebut terlihat dari penurunan margin beban usaha dari 7% di September 2021 menjadi 6% di September 2022.

Berita Terkait