3 Prinsip Sukses untuk Pengusaha Kecil saat Pandemi

JAKARTA – Pandemi Covid-19 memukul banyak bisnis, termasuk juga pelaku usaha skala kecil.

Kejadian pandemi virus corona ini membuat ekosistem bisnis berubah, mulai dari penurunan jumlah konsumen hingga putusan untuk mengurangi jumlah tenaga kerja. Bahkan, tidak sedikit usaha kecil gulung tikar.

Pandemi pada akhirnya menuntut kita untuk mendefinisikan ulang prioritas bisnis ke depan agar bisnis tetap berjalan dan berhasil. Alih-alih terpuruk dalam kondisi pandemi Covid-19 yang membuat ekonomi terguncang, pelaku usaha harus kreatif untuk bertahan hidup.

Dikutip dari Entrepreneur, Jonathan Jadali, CEO of Ascend Agency, membagi sejumlah prinsip bagi pelaku usaha skala kecil untuk membuat bisnisnya berhasil di waktu mendatang.

Budaya yang gesit

Gesit berarti bisnis mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan. Atau, mampu beradaptasi terhadap krisis dengan cara menghemat biaya tetapi tidak mengganggu kualitas produk atau layanan.

Jelas, perusahaan yang bertahan selama ini adalah mereka yang mampu membuat perubahan tajam dalam cara berbisnis saat menghadapi pandemi.

Covid-19 telah menyorot kebutuhan untuk membangun bisnis yang gesit, tetapi lebih dari itu, Covid-19 telah menyorot kebutuhan untuk membangun budaya ketangkasan yang berkelanjutan dalam bisnis.

Ada banyak cara untuk melakukan ini. Namun, Jadali menganjurkan “strategi pengumpulan pengetahuan” untuk membangun budaya yang gesit.

Bisnis yang terus mencari pengetahuan seringkali paling gesit. Ini tidak berarti hanya menggelar kursus dan pelatihan, tetapi perlu membuat tantangan terus-menerus kepada staf dan bisnis Anda untuk menemukan “cara yang lebih baik” setiap saat.

Mendorong setiap orang di perusahaan Anda untuk menantang rutinitas yang telah ditetapkan dan untuk mencari serta menawarkan pendekatan yang berbeda untuk mencapai tujuan aspiratif adalah cara terbaik untuk membangun budaya kegesitan.

Tantangan ini mencakup eksplorasi teknologi baru, platform baru, pengetahuan baru, dan strategi. Jadali menyarankan untuk menghargai ide-ide paling berani dari staf Anda.

Anda tidak harus terus-menerus mengutak-atik bisnis Anda, tetapi menjaga staf Anda dalam keadaan pikiran yang inovatif secara teratur sering kali membuahkan hasil ketika diperlukan saat butuh perubahan tajam. Ini adalah salah satu cara terbaik untuk tetap memajukan bisnis Anda.

Budaya relevansi sosial

Tidak jarang melihat bisnis memiliki tujuan sosial. Untuk waktu yang lama bisnis telah mempolitisasi isu-isu sosial untuk mendapatkan relevansi, keuntungan, atau sekadar mencentang kotak CSR.

Namun, Covid-19 telah mengubah sikap terhadap masalah sosial secara drastis. Saat ini, banyak bisnis merombak operasi mereka untuk mencerminkan pendekatan bisnis yang lebih relevan secara sosial.

Kemungkinan, di masa mendatang, bisnis harus bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi nirlaba untuk campur tangan dalam tujuan sosial.

Ada sisi positifnya, dampak sosial telah terbukti menarik niat baik yang sangat besar untuk bisnis dan bertindak sebagai alat besar untuk pemasaran.

Secara sederhana, tren menunjukkan bahwa pelanggan cenderung lebih senang pada bisnis yang memiliki kontribusi sosial. Dengan kata lain, membangun budaya relevansi sosial yang kuat ke dalam cara kerja bisnis adalah prinsip sukses ke depan.

Layanan pelanggan yang berjarak

Situasi pembatasan sosial mempercepat evolusi sistem pembayaran non-tunai. Ini juga mempercepat layanan antar sebagai andalan bisnis saat ini.
Secara umum, penggunaan uang tunai dan mesin ATM menurun karena orang-orang beralih ke metode pembayaran digital yang relatif lebih aman dan jauh lebih nyaman.

Maka itu, persiapkan bisnis Anda dengan asumsi bahwa kontak fisik sudah sangat minim. Ini strategi yang bisa Anda lakukan untuk mempertahankan bisnis Anda di masa depan.

Tags:
pandemiPandemi COVIDPandemi Covid-19pelaku usahapelaku usaha mikro dan kecilStrategi BisnisUKMUKM dan UMKM
%d blogger menyukai ini: