3 Langkah Intervensi BI Demi Selamatkan Rupiah

April 01, 2020, 10:05 AM UTC

Penulis: wahyudatun nisa

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Rabu (18/3) hingga pukul 10.09 WIB, nilai tukar rupiah melemah 140 poin atau 0,93% ke posisi Rp15.223 per dolar AS. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

Di tengah pandemi virus corona (COVID-19), Bank Indonesia (BI) menerapkan langkah strategis yakni triple intervention untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan merebaknya wabah COVID-19 menyebabkan kepanikan global, termasuk di Indonesia sehingga menyebabkan terjadinya outflow atau aliran modal asing keluar. Untuk itu, BI mengambil tindakan untuk meredakan kepanikan tersebut.

“BI berkomitmen terus melakukan stabilisasi di pasar, baik stabilisasi dalam nilai tukar rupiah melalui spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan juga pembelian SBN (surat berharga negara) dari pasar sekunder.

“Itu triple intervention, kami terus berada di pasar untuk melakukan itu,” ujar di Jakarta Perry, Selasa, 31 Maret 2020.

Dalam penjabarannya, Perry mengatakan sebelum merebaknya COVID-19 di Indonesia dari awal Januari sampai 19 Januari masih terjadi inflow (aliran modal asing masuk), di antaranya sebesar Rp153,4 triliun di pasar SBN dan Rp13,4 triliun di pasar saham.

Setelah merebaknya virus tersebut di Indonesia, terjadi outflow besar-besaran yang totalnya mencapai Rp167,9 triliun terhitung sejak 20 Januari hingga 30 Maret 2020.

“Dengan berbagai langkah dari stimulus fiskal, langkah stabilisasi dari bank sentral, meredakan kepanikan tersebut meskipun ketidakpastian masih tinggi dan itu membawa perkembangan nilai tukar,” jelas Perry.

Adapun, Perry menyebutkan BI telah melakukan buyback atau pembelian kembali SBN di pasar sekunder sebesar Rp166,2 triliun dari yang dilepas investor asing. Secara keseluruhan, total pembelian SBN yang dilakukan BI mencapai Rp172,5 triliun.

“Saya juga melakukan video conference dengan para gubernur bank sentral di ASEAN 5. Kami saling tukar informasi bagaimana langkah pencegahan COVID-19 dan saling bertukar informasi untuk melakukan stabilisasi di pasar, injeksi likuiditas, dan juga langkah kebijakan fiskal, stimulus dilakukan di berbagai negara. Itu menunjukan kami tidak hanya bergerak secara nasional tapi juga secara internasional,” ujarnya. (SKO)