3 BUMN Go International, Bangun PLTS di Kongo Afrika

JAKARTA – Tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) siap go international dengan menggarap proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kongo, Afrika.

Ketiga BUMN itu adalah PT Len Industri (Persero), PT Barata Indonesia (Persero), serta serta PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA. Ketiganya siap membangun PLTS berkapasitas 200 Mega Watt peak (MWp) di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo.

Penandatanganan kontrak tersebut dilakukan oleh Direktur Operasi I Len Industri Linus Andor Mulana Sijabat, Direktur Pemasaran Barata Indonesia Sulistyo Handoko, Direktur Keuangan dan SDM INKA Andy Budiman serta CEO TSG Infrastructure Septian Wahyutama bertempat di Menara MTH, Jakarta, Sabtu, 19 September 2020.

Direktur Operasi I PT Len Industri, Linus Andor M Sijabat, mengatakan kerja sama Indonesia-Afrika dalam realisasi kontrak kerja ini merupakan momentum Len Industri mengembangkan eksistensi bisnisnya di pasar luar negeri, khususnya dalam bidang energi terbarukan.

Ketiga BUMN tersebut telah menandatangani kontrak kerja dengan TSG Global Holdings untuk membangun PLTS berkapasitas 200 Mega Watt peak (MWp) di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, Afrika. PT Len Industri memegang peran sebagai ketua konsorsium yang dibentuk dari tiga perusahaan di atas.

“PT Len Industri akan membentuk kerjasama operasi (KSO) dengan Barata Indonesia yang berperan dalam rekayasa, pengadaan, dan konstruksi atau EPC (Engineering, Procurement, Construction) PLTS 200 MWp tersebut. Di sana kita akan men-deliver panel surya, PV mounting, inverter & combiner, design & engineering, electrical component, interkoneksi, pekerjaan sipil, instalasi dan konstruksi, hingga pengujian dan pengawasan,” ujar Linus salam siaran pers, Minggu, 20 September 2020.

TSG melalui afiliasinya di Republik Demokratik Kongo, Sunplus S.A.R.L, telah membentuk kerja sama agar proyek ini terealisasi. Sunplus S.A.R.L. akan memberikan kewenangan sepenuhnya dalam pekerjaan EPC, termasuk di antaranya kepercayaan tata kelola manajemen profesional, serta sebagai pemegang konsesi investasi PLTS ini.

Kontrak Rp2,59 Triliun

PLTS Kinshasa 200 MWp akan di bangun pada lahan seluas 300 hektare dengan nilai kontrak sebesar US$175 juta atau setara Rp2,59 triliun. Ini merupakan tahap awal dari pembangunan PLTS 1.000 MWp di area tersebut.

PLTS akan dibangun dengan sistem ground-mounted (di atas tanah) dan On-grid atau terhubung/terkoneksi dengan jaringan (grid). Artinya, bersama pembangkit lainnya ikut menyuplai beban di jaringan listrik yang sama. Pemanfaatan energi listrik yang dihasilkan akan digunakan untuk melistriki wilayah di Kinsasha, Kongo yang belum teraliri listrik.

Len Industri merupakan pelopor produsen modul surya di Indonesia yang telah merintis bisnis ini sejak tahun 1985 dan telah mengaplikasikannya di berbagai wilayah Indonesia produk-produk PLTS seperti: solar tree, penerangan jalan umum, solar rooftop, BTS surya, PLTS terpusat, PLTS hybrid, dll.

Saat ini Len Industri juga ditunjuk sebagai ketua Tim Kerja Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Surya di lingkungan BUMN. Tim kerja itu dibentuk oleh Kementerian BUMN sejak Juli 2020 lalu.

Tidak hanya pembangunan PLTS, TSG juga menggandeng Len Industri menjajaki peluang kerja sama proyek transportasi di Kongo. Selain itu, TGS juga menggandeng pengerjaan proyek infrastruktur dan bendungan bersama BUMN lain seperti WIKA dan INKA.

Linus juga mengatakan bahwa perseroan berhasil membuktikan kapasitasnya dalam membangun sistem perkeretaapian di level nasional. Perusahaan juga akan ekspansi ke level global di mana pasar Afrika dan Asia Pasifik menjadi target saat ini. (SKO)

Tags:
AfrikaBUMNInkaKementerian BUMNkongoPT Barata Indonesia (Persero)PT Industri Kereta Api (Persero)PT Len Industri
%d blogger menyukai ini: