2019 : Harga Karet dan CPO akan Turun, Bagaimana Nasib Pekerjanya?

TrenAsia (TA) -  

JAKARTA– Harga komoditas karet dan CPO akan turun pada 2019. Para ekonom berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh melemahnya ekspor dan tekanan ekonomi global. 

Dilansir dari bloomberg, harga karet untuk kontrak April 2019 yang dirilis pada Kamis (22/11) di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) berada pada level 154,70 yen/kg. Angka itu turun dari harga tertinggi pada tahun ini mencapai 199,96 yen/kg pada Februari lalu. Pada Januari tahun lalu, harga komoditas ini sempat menembus 295,4 yen/kg. 

Sementara itu, harga CPO untuk kontrak Februari 2019 yang dirilis pada Kamis (22/11), mencapai 1.686 ringgit per ton atau berada pada level terendahnya tahun ini. 

Lalu bagaimana nasib para pekerja di sektor ini?

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane mengatakan, akan ada ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK). Di sektor hulu, PHK akan terjadi kepada buruh tani seperti pada penderes. Sedangkan di sektor hilir, PHK akan terjadi pada buruh di pabrik industri strategis seperti pabrik ban, vulkanisir dan lainnya. 

Senada, Ekonom Center of Reform Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah mengatakan, tren penurunan kedua komoditas utama Indonesia ini akan mengurangi serapan tenaga kerja. Menurutnya, risiko tersebut bisa berdampak langsung pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan karena berkaitan dengan meningkatnya angka pengangguran dan berkurangnya kontribusi industri karet dan CPO sebagai sektor strategis penopang ekspor.

“Pemutusan hubungan kerja [PHK] dan deindustrialisasi [sektor sawit dan karet] mungkin masih belum terjadi dalam waktu dekat. Namun, fenomena itu sangat mungkin terjadi,” tuturnya. 

Padahal, menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), jumlah pekerja yang menggantungkan hidupnya di industri CPO dan produk turunannya mencapai 17,5 juta orang. Adapun, porsi terbesar ada di lini hulu atau perkebunan yang jumlahnya mencapai 10 juta orang. ***(GEM)