12 Ton Kopra Putih Berhasil Diekspor ke China

May 10, 2020, 01:26 PM UTC

Penulis: Khoirul Anam

Kopra Putih (Sumber: https://majalah.ramesia.com/)

Kendari- Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara, pada Minggu, 10 Mei 2020 akhrinya berhasil mengekspor kopra  putih   setelah berkali-kali mengalami penundaan kargo.

Kopra putih sebanyak satu kontainer 20 kaki yang berisi 12 ton ini diekspor melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma).

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar menyatakan, ini peristiwa penting bagi desa di tengah pandemi COVID-19. Apalagi, ada kecenderungan kembalinya pemudik ke desa meningkatkan orang dalam pantauan (ODP) dan sesekali memunculkan penderita COVID-19.

“Ekspor perdana 12 ton kopra ini akan diikuti ekspor-ekspor berikutnya minimal 100 ton perbulan. Nilai eskpor saat ini berkisar di posisi Rp110 juta, namun pada bulan-bulan berikutnya akan meningkat di atas Rp1,2 miliar perbulan,” kata Abdul dalam keterangan tertulis, Minggu, 10 Mei 2020.

Dalam kegiatan ekspor ini, Bumdes dan Bumdesma, yang bertindak sebagai pemodal awal dengan kekayaan dari dana desa dan sumbangan lain, membeli hasil kopra dari para petani lokal. Hal ini membuat pendapatan para petani mengalami peningkatan.

“Kali ini ekspor dilayangkan ke Cina, dan segera ditambah dengan ekspor ke India dan Bangladesh,” lanjut Abdul.

Abdul menyebutkan, sebelumnya, harga yang diterima petani ialah Rp500 per butir kelapa. Kini, kopra putih meningkatkan pendapatan mereka senilai rata-rata Rp1.200 per butir kelapa. Menurutnya, ini terjadi peningkatan hampir tiga kali lipat.

Selain itu, gairah penanaman kelapa juga turut meningkat. Bersama-sama dengan pola pengolahan baru, tenaga kerja yang terserap meningkat hampir dua kali lipat.

Dikatakan, kegiatan ekspor bermula dari pertemuan Menteri Desa PDTT dengan Bupati Buton Utara Abu Hasa  pada 9 Januari 2020 lalu yang membahas kapasitas kapasitas produksi dan pemasaran bagi produk-produk unggulan desa-desa di Buton Utara. Kemudian, Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal menindaklanjutinya dengan mengajak berbagai perusahaan swasta langsung mendatangi desa-desa di sana.

Potensi Buton Utara yang dikembangkan lebih lanjut bersama-sama berbasis industri dan korporasi desa mencakup komoditas mente (7.000 ha), kelapa 6.500 ha (melalui industri coconut oil, VCO dan kopra putih), rumput laut 1.000 ha eksisting berikut tambahan perluasan potensial 7.000 ha, serta beras organik varietas lokal hitam dan merah seluas 1.000 Ha.

Berita Terkait