10 Fakta Mencengangkan Tentang Pendidikan di Afghanistan

24 Agustus 2021 22:09 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi: Pengungsi Suriah/UNICEF

JAKARTA -- Ketika Amerika Serikat menginvasi Afghanistan pada 2001, persentase anak-anak Afghanistan yang bersekolah sangat rendah. Sekarang, lanskap pendidikan Afghanistan sudah sangat berbeda.

Lebih banyak anak, terutama anak perempuan, yang terdaftar di sekolah. Lebih penting lagi, mereka tinggal di sekolah alias berasrama (home schooling), model pendidikan yang diterapkan AS.

Sebelumnya, anak-anak, terutama perempuan dikekang oleh Taliban yang menguasai negara itu selama lima tahun, mulai 1996 sampai 2001. Anak-anak menderita di bawah tekanan rezim Islamis itu, yang melemparkan negara itu ke peringkat indeks pembangunan manusia terendah.

AS menghabiskan ratusan miliar dolar untuk berperang melawan Taliban. Dan lebih penting, negara adikuasa itu telah menghasilkan kemajuan besar bagi warga Afghanistan, dan memungkinkan perempuan untuk berkembang di media, pemerintahan, pendidikan, dan masyarakat sipil.

Meski begitu, perhatian AS tidak sepenuhnya tercurah ke pendidikan. Sebagian besar warga Afghanistan hidup dalam kemiskinan, yang membuat banyak anak tidak memiliki akses ke ranah pendidikan yang baik.

Dana Anak-anak PBB atau UNICEF menyatakan, dari 3,7 juta anak Afghanistan yang putus sekolah, sebanyak 60% di antaranya adalah perempuan.

Negara ini juga memiliki salah satu tingkat kematian ibu tertinggi di dunia dan ada jutaan anak perempuan yang tidak pernah pergi ke sekolah, bahkan untuk sehari pun.

Menurut data Bank Dunia, jumlah perempuan Afghanistan yang menghadiri kelas satu mencapai puncaknya pada tahun 2011. Namun pada 2015, siswa kelas satu perempuan telah turun menjadi 57%.

Tingkat melek huruf saat ini mencerminkan perbedaan antara jenis kelamin: hanya 37% remaja perempuan yang dapat membaca dan menulis, dibandingkan dengan 66% remaja laki-laki, menurut Human Rights Watch.

Tak perlu diragukan lagi, pendidikan sangat penting. Orang-orang Afghanistan tidak dapat mengatasi kemiskinan dan bergerak menuju perdamaian tanpa sekolah.

10 Fakta Pendidikan di Afghanistan

Dikutip dari publikasi organisasi non-profit internasional, Borgen Project, setidaknya ada 10 fakta yang bisa menggambarkan situasi pendidikan di Afghanistan.

1. Lebih dari 9 juta anak bersekolah

Sekitar 300.000 siswa menghadiri perguruan tinggi dan universitas pada 2019. Selain itu, 480.000 guru baru ditempatkan di sekolah-sekolah Afghanistan. Pelatihan mereka didanai oleh U.S. Agency for International for Development Initiatives (USAID).

2. Jarang putus sekolah

Sekitar 85% anak yang memulai sekolah dasar juga menyelesaikan sekolah dasar. Selain itu, hampir 94% anak laki-laki dan 90% anak perempuan yang memulai sekolah menengah juga menyelesaikan sekolah menengah.

3. Tingkat melek huruf tinggi di perkotaan

Meskipun tingkat melek huruf di pedesaan Afghanistan masih relatif rendah, hal ini tidak terjadi di daerah perkotaan.

Tingkat melek huruf bagi perempuan yang tinggal di perkotaan mencapai 34,7%. 
Namun, angka melek huruf untuk pria yang tinggal di perkotaan mencapai 68%.

4. SEA meningkatkan pendidikan

AS melalui USAID mencanangkan program "Strengthening Education in Afghanistan" (SEA), untuk meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan di Afghanistan.

Terbukti, lebih dari 4.500 guru menerima pelatihan pada tahun 2018. Pada tahun yang sama, 710 perempuan menerima beasiswa. Ini memungkinkan mereka bekerja untuk menerima gelar sarjana.

Beasiswa SEA juga memungkinkan 150 wanita bekerja untuk menerima gelar master di universitas-universitas di India.

5. Campur tangan AS

Pada tahun 2007, enam tahun setelah invasi AS ke Afghanistan, 60% anak-anak Afghanistan bersekolah di tempat sementara seperti tenda, bukan di gedung sekolah.

Sekitar 80% guru dianggap tidak memenuhi syarat. Pendidikan 5 juta anak dipulihkan tetapi 50% anak masih belum bersekolah.

Dalam 12 tahun terakhir, perbaikan telah dilakukan di semua bidang pendidikan.

6. 3 juta anak putus sekolah

Saat ini, ada lebih dari 3 juta anak putus sekolah di Afghanistan. Dari 3 juta ini, 60% adalah perempuan.

Sementara, hampir 17% gadis Afghanistan menikah sebelum mereka berusia 15 tahun, yang berarti bahwa mereka meninggalkan sekolah lebih cepat daripada rekan-rekan pria mereka.

7. Jumlah anak-anak di sekolah meningkat

Saat ini lebih banyak anak Afghanistan bersekolah daripada tahun 2001. Namun tidak ada peningkatan signifikan dalam jumlah pendaftaran sejak 2011.

Ada juga beberapa bagian Afghanistan yang mengalami penurunan jumlah pendaftaran selama empat tahun terakhir.

8. Partisipasi perempuan rendah

Di beberapa provinsi Afghanistan, tingkat partisipasi perempuan serendah 14%.

Hanya 33% guru Afghanistan adalah perempuan. Jumlah guru perempuan sangat bervariasi dari satu daerah ke daerah lainnya.

Di beberapa provinsi, 74% guru adalah perempuan. Di negara lain, hanya 1,8% guru adalah perempuan.

9. 50% milenial buta huruf

Sekitar 50% warga Afghanistan berusia 15 hingga 24 tahun buta huruf.

Pengeluaran pemerintah Afghanistan tumbuh tiga kali lipat dari tahun 2010 hingga 2015. Namun, pengeluaran untuk pendidikan tidak meningkat secara proporsional.

Lebih dari 50% mahasiswa berasal dari daerah berpenghasilan tinggi.

10. Perempuan lebih cepat selesaikan pendidikan

Anak perempuan Afghanistan memiliki waktu sekolah lebih cepat hampir setengah tahun dibandingkan anak laki-laki.

Pada 2014, anak laki-laki menghabiskan rata-rata 13 tahun di sekolah. Anak perempuan menghabiskan rata-rata delapan tahun di sekolah. Apalagi hanya 38,2% penduduk dewasa yang melek huruf.

Pada 2017, Afghanistan berada di peringkat ke-79 secara global dalam hal pengangguran kaum muda, dengan 17,6% penduduknya berusia 15-24 menganggur.

Berita Terkait