10 Emiten Perbankan Bakal Rights Issue di Penghujung Tahun, Mana yang Layak Dikoleksi?

25 November 2021 16:30 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Vega Aulia

Karyawan melintas dengan latar layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin, 25 Oktober 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - Emiten perbankan semakin gencar mewarnai Bursa dalam negeri dengan aksi korporasi berupa penambahan modal pada sisa tahun ini. 

Hal ini tidak lepas dari adanya aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mewajibkan perbankan untuk mengeskalasi modal inti menjadi minimum Rp2 triliun pada akhir 2021 dan Rp3 triliun pada 2022.

Oleh sebab itu, sebagian bank memilih jalan rights issue sebagai amunisi demi memperkuat struktur permodalan, untuk menggenjot penyaluran kredit hingga keperluan investasi teknologi. Berikut 10 bank yang menggelar rights issue pada kuartal IV-2021 ini: 

1. PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO)

Bank Raya memulai langkah sebagai fully digital bank dengan menebar sebanyak-banyaknya 1,05 miliar saham baru. Dengan menetapkan harga pelaksanaan Rp1.100 per lembar, emiten bersandi saham AGRO ini membidik dana Rp1,16 triliun dalam aksi korporasi tersebut.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang menguasai 85,7% saham AGRO menyatakan akan mengeksekusi haknya dalam rights issue kali ini. Suntikan dana rights issue diperlukan Bank Raya untuk modal kerja untuk penyaluran kredit secara digital.

2. PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)

Bank milik taipan Anthoni Salim ini memastikan siap melaksanakan aturan modal inti minimum yang digodok OJK. Modal inti tambahan tersebut rencananya didapat BINA melalui penerbitan 282 juta saham biasa dalam Penawaran Umum Terbatas (PUT) III.

Bank Ina mematok harga pelaksanaan PUT tersebut sebesar Rp4.200 per lembar. Dengan demikian, Bank Ina bisa menarik dana segar hingga Rp1,18 triliun. 

Direktur Utama (Dirut) Bank Ina Daniel Budirahayu menampik dana rights issue ini akan digunakan untuk transformasi perseroan menjadi fully digital bank. Menurutnya, selain untuk pemenuhan aturan baru OJK, dana itu bakal digunakan untuk investasi di bidang teknologi.

“Belum ada rencana untuk menjadi bank digital sepenuhnya, tetapi kami akan melengkapi digitalisasi Bank Ina yg nantinya akan ada unit Digital Banking di samping unit konvensional. Yang pasti hasil dana rights issue akan digunakan selain pengembangan usaha juga untuk development IT,” ucap Daniel saat dikonfirmasi TrenAsia.com, Rabu, 24 November 2021.

3. PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP)

Selanjutnya, ada Bank KB Bukopin yang melakukan rights issue dengan harga pelaksanaan sebesar Rp200 per lembar. Emiten bersandi saham BBKP ini akan melepas maksimum 35,21 miliar lembar saham baru. Dengan harga tersebut, Bank KB Bukopin membidik dana hingga Rp7,04 triliun dalam Penawaran Umum Terbatas (PUT) VI ini.

Setiap pemilik 200 juta saham lama akan memperoleh 215,55 juta saham baru. Bank asal Korea Selatan KB Kookmin Bank Co Ltd telah menyatakan komitmen untuk mengeksekusi haknya 23,59 miliar saham atau senilai Rp4,7 triliun. 

Pemegang saham mayoritas BBKP ini juga akan bertindak sebagai standby buyer dan siap menyerap paling banyak 3,5 miliar saham atau senilai Rp700 miliar bila investor lain tidak mencaplok haknya.

4. PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI)

Tidak ingin ketinggalan, Allo Bank milik konglomerat Chairul Tanjung ini rencananya bakal menerbitkan paling banyak 10,04 miliar saham baru melalui skema rights issue. Adapun harga pelaksanaan yang dipatok BBHI ialah Rp478 per lembar.

Dengan begitu, Allo Bank berpotensi meraup dana sebesar Rp4,79 triliun dari aksi korporasi ini. Pada aksi korporasi ini, PT Mega Corpora sebagai pemegang saham pengendali (PSP) di Allo Bank memiliki opsi untuk mengalihkan sebagian atau sepenuhnya saham baru yang diterbitkan dalam rights issue tersebut. 

Untuk diketahui, Chairul Tanjung melalui Mega Corpora kini menggenggam 73,71% saham emiten yang dahulu bernama Bank Harda Internasional tersebut. Dengan demikian, total saham BBHI yang beredar pun bakal melejit usai rights issue ini terlaksana.

5. PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB)

Bank digital yang memimpin jumlah unduhan layanan digital banking, Bank Neo Commerce, terus mengeruk dana untuk pengembangan teknologi melalui rights issue. 

Terbaru, OJK telah menurunkan restu dengan mengeluarkan pernyataan efektif terhadap pelaksanaan rights issue BBYB. Bank yang dikuasai Akulaku ini akan menerbitkan paling banyak 1,92 miliar saham baru dalam rights issue tersebut. Dengan mematok harga pelaksanaan Rp1.300 per lembar, BBYB membidik dana Rp2,5 triliun. 

Skema rights issue-nya adalah, setiap pemegang saham yang memiliki 35 saham lama yang namanya tercatat dalam DPS (Daftar Pemegang Saham) pada tanggal 30 November 2021 pukul 16:00 WIB mempunyai 9 HMETD, di mana setiap 1 HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru.

“Dana rights issue ini akan digunakan perseroan untuk memenuhi modal inti minimum Rp3 triliun. Dengan tambahan Rp2,5 triliun, syarat modal inti tersebut sudah terpenuhi,” kata Direktur Utama (Dirut) BBYB Tjandra Gunawan saat dikonfirmasi TrenAsia.com, awal pekan ini.

6. PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK)

Di penghujung tahun ini, Bank Aladin Syariah mencoba mengejar ketertinggalan modal inti dengan melepas 2 miliar saham baru. Jumlah saham baru yang diterbitkan emiten bersandi saham BANK ini setara 13,21% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah rights issue. 

Namun, manajemen BANK masih belum mengumumkan harga pelaksanaan rights issue ini. Sementara itu, PT Aladin Global Ventures kini masih menjadi pemilik saham mayoritas di BANK dengan komposisi 60,33%. Disusul oleh Kasai Universal 6,15% dan publik 33,52%.

7. PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) 

Bank Amar, perusahaan di balik produk digital banking TunaiKu dan SenyumKu, ikut mewarnai bursa dengan melepas 20 miliar saham baru dalam rights issue-nya pada kuartal IV-2021. Namun, AMAR belum menetapkan harga pelaksanaan rights issue-nya. 

Dana yang diperoleh Bank Amar ini akan digunakan untuk mempertebal modal inti agar melampaui threshold anyar yang diatur OJK. Aksi korporasi ini telah mendapat restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 12 November 2021.

8. PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA)

Bank Capital akan melepas paling banyak 20 miliar saham baru dalam aksi korporasi rights issue. Meski belum ada pembeli siaga, sejumlah pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5% telah mengumumkan komitmennya untuk mengeksekusi rights issue.

Pemegang saham itu terdiri dari PT Inigo Global Capital yang mengapit 14,71% saham BACA dan PT Delta Indo Swakarsa yang menggenggam 13,9% saham perseroan. Di sisi lain, KPD Simas Equity Fund yang memiliki 11,06% saham BACA masih belum mengambil keputusan dalam penyerapan rights issue ini. 

Praktis, aksi korporasi ini akan ditentukan oleh minat investor publik dengan komposisi kepemilikan sebesar 60,27%. Tidak hanya itu, BACA juga masih belum mengumumkan harga pelaksanaan rights issue ini.

9. PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA)

Bank Bumi Arta juga bakal melakukan aksi penambahan modal melalui rights issue untuk memenuhi ketentuan OJK.  BNBA akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 750 juta saham dengan nilai nominal Rp100 per saham. 

Perseroan memperkirakan dapat mengantongi pernyataan efektif dari OJK untuk aksi ini pada 29 November 2021. Periode pelaksanaan rights issue dijadwalkan pada 13-17 Desember 2021. 

Sebelumnya, Bank Bumi Arta mengumumkan masuknya pemegang saham baru, yakni PT Takjub Finansial Teknologi alias Ajaib Reksa Dana. Nilai transaksi pembelian saham BNBA oleh Ajaib ini cukup besar, yakni 554,40 juta lembar atau 24% saham dari sebelumnya nihil.

Transaksi tersebut tercatat dilaksanakan pada 17 November 2021 dengan harga pembelian per saham Rp1.345. Artinya, Ajaib merogoh kocek sedalam Rp746 miliar untuk memiliki 24% saham Bank Bumi Arta.

10. PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BBSI)

Modal inti yang masih tipis memaksa Bank Bisnis Internasional untuk melakukan penambahan modal melalui skema rights issue. BBSI akan melepas saham baru maksimum 280 juta lembar atau 8,49% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Menawarkan harga pelaksanaan Rp3.510 per lembar, BBSI berharap bisa mendapatkan dana hingga Rp985,33 miliar. Dengan jumlah kepemilikan 40% saham atau 1,21 miliar lembar saham BBSI, PT Finaccel Teknologi Indonesia (Kredivo) menyatakan kesiapannya untuk mengeksekusi haknya dalam rights issue kali ini.

Dengan mengacu pada porsi kepemilikannya, Kredivo harus mengucurkan dana sebesar Rp394 miliar untuk mengeksekusi 112,28 juta lembar saham baru. Adapun periode rights issue ini berlangsung pada 2 Desember-17 Desember 2021.

Berita Terkait