1 Tahun Ditinggal Amerika, Apa Kabar Afghanistan?

12 Agustus 2022 19:10 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Editor: Amirudin Zuhri

Rakyat Afghanistan (New York Time)

KABUL-Minggu-minggu ini adalah satu tahun Amerika meninggalkan Afghanistan dan mengakhiri 20 perang yang berlarut-larut. Perang terpanjang dalam sejarah Amerika.

Amerika meninggalkan Afghanistan dalam keadaan tergesa-gesa dan pada pada 15 Agustus 2021 Taliban kembali mengambil alih tampuk kekuasaan.

Amerika meninggalkan Afghanistan dalam kekacuaan di banyak hal. Terutama ekonomi. Bahkan sebelum Amerika pergi, ekonomi negara itu sudah memburuk karena berbagai faktor. Dari pandemi Covid-19, kekeringan yang parah dan korupsi yang akut.

Kemudian terjadi pemotongan tiba-tiba bantuan sipil dan keamanan senilai  lebih dari US$8 miliar per tahun. Ini  setara dengan 40% dari PDB Afghanistan. Tidak ada negara di dunia yang dapat menyerap goncangan ekonomi yang begitu besar. Dan situasi masih diperburuk oleh sanksi, pembekuan cadangan devisa Afghanistan, dan keengganan bank asing untuk berbisnis dengan negara tersebut.

Sebuah studi Unites Stade Institute of Peace menyebutkan, ekonomi telah menyusut 20% menjadi 30% sejak Agustus 2021 dan  banyak orang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Layanan sosial hancur, kemiskinan dan kelaparan serta krisis kemanusiaan telah sangat memburuk. Ratusan  ribu orang telah pergi dan  banyak bisnis Afghanistan telah ditutup atau dirampingkan.

Namun setelah  jatuh bebas selama berbulan-bulan, ekonomi Afghanistan mulai stabil. Tetapi  pada keseimbangan yang jauh lebih rendah. Ini  membuat orang lebih miskin dan lebih rentan terhadap kekurangan, kelaparan, dan penyakit. Nyaris belum ada prospek bagi perekonomian untuk melanjutkan pertumbuhan yang tinggi apalagi pulih ke tingkat sebelum 2021.

Secara eksternal, nilai tukar mata uang Afghanistan telah bangkit kembali dan tidak lebih rendah dari setahun yang lalu. Impor telah menurun tajam yang mencerminkan keruntuhan ekonomi dan kurangnya bantuan internasional untuk membiayai impor. Sementara ekspor meningkat dua kali lipat dalam beberapa bulan terakhir.

Secara internal, bisnis Afghanistan tampaknya juga telah berhenti melakukan pemutusan hubungan kerna dan penutupan lebih lanjut. Meski belum mendekati pemulihan tingkat aktivitas sebelum 2021. Barang-barang umumnya tersedia di pasar dan upah tampaknya telah berhenti menurun. 

“Inflasi tetap tinggi tetapi ini  merupakan hasil dari kenaikan harga pangan dan energi global. Bukan  depresiasi nilai tukar atau faktor domestik lainnya seperti yang terjadi sebelumnya,” tulis kajian tersebut.

Pertambangan menemui  titik terang, dengan produksi dan ekspor batu bara  terutama ke Pakistan berada di jalur untuk  menjadi sekitar empat juta ton tahun ini. Angka ini meningkat  dua kali lipat.

Tetapi bukan berarti situasi ekonomi telah  baik. Hanya menunjukkan kejatuhan  bebas telah berhenti. 

Taliban juga mulai menangani manajemen ekonomi dengan baik. Pengumpulan pendapatan di perlintasan perbatasan sangat luar biasa meskipun terjadi penurunan tajam dalam impor. Total pendapatan berada di jalur untuk turun tetapi jauh lebih kecil dari penurunan ekonomi.

Taliban telah mengambil pendekatan yang lebih positif walaupun sederhana ke sektor swasta Afghanistan daripada pemerintah sebelumnya. Perusahaan swasta tidak jarang berhasil bernegosiasi dengan Taliban mengenai tarif pajak dan masalah bisnis lainnya yang menjadi perhatian langsung mereka.

 Taliban juga berhasil  mengurangi korupsi di bea cukai dan di pos pemeriksaan jalan. Akibatnya, beban keseluruhan pada sektor swasta telah berkurang meskipun penerimaan pajak formal tertahan. 

Pemerintahan Taliban pada umumnya mempertahankan sikap makroekonomi dan moneter yang bertanggung jawab. Mereka  tidak dapat mencetak uang kertas Afghanistan baru atau membanjiri negara dengan dolar dan penarikan dari bank terbatas untuk mencegah keruntuhan mereka.

Peningkatan keamanan yang dibawa oleh kemenangan Taliban dan berakhirnya pertempuran besar telah menguntungkan bagi ekonomi Afghanistan. Situasi ini  menguntungkan banyak bisnis dan individu. Hal yang sama berlaku untuk penutupan sebagian besar pos pemeriksaan jalan dan lebih sedikit korupsi di bea cukai.

Tetapi masih banyak kendala yang dihadapi Afghanistan. Pembatasan Taliban pada pendidikan anak perempuan dan peran perempuan dalam pekerjaan akan memiliki konsekuensi ekonomi jangka panjang yang membawa bencana dengan membatasi partisipasi lebih dari setengah populasi dalam perekonomian.

“Kekeringan yang berkelanjutan  akan membuat pertanian semakin sulit untuk memainkan peran penting dalam pemulihan ekonomi. Implementasi serius dari larangan opium akan menciptakan masalah bagi ekonomi pedesaan.”

Amerika diam

Satu tahun setelah mengakhiri perang di Afghanistan, Amerika sendiri  berbicara lebih sedikit tentang kontraterorisme. Gedung Putih  lebih banyak tentang ancaman politik, ekonomi dan militer yang ditimbulkan oleh China serta Rusia. 

Ada poros yang tenang di dalam badan-badan intelijen yang memindahkan ratusan perwira ke posisi yang berfokus pada China. Termasuk  beberapa yang sebelumnya menangani terorisme.

Namun  perang kontraterorisme tidak ditinggalkan sepenuhnya. Baru seminggu  lalu pesawat tak berawak CIA menewaskan pemimpin al-Qaida Ayman al-Zawahri di Kabul. 

Amerika telah lama khawatir dengan ambisi politik dan ekonomi China yang berkembang.  Negara ini telah menuntut perhatian lebih besar. Ini menjadikan  Amerika semakin enggan berbicara soal negara yang pernah didudukinya selama 20 tahun tersebut.  

Berita Terkait